sumber gambar dari Pinterest |
Penyunting: Bryan Damar Buwono
Anak-anak adalah sebuah pesan yang kita kirimkan kepada masa yang tak akan kita jumpa
- Neil Postman
Di sekolah-sekolah, kita diajarkan bahwa tonggak kesusastraan Indonesia modern dimulai pada era Balai Pustaka dengan Azab dan Sengsara (1920) karangan Merari Siregar sebagai karya orisinil pertamanya. Padahal, karya-karya karangan peranakan Melayu-Tionghoa yang belakangan baru diakui sebagai bagian dari kesusastraan Indonesia justru sudah ada jauh sebelum itu. Badan yang berada di bawah naungan pemerintah kolonial kala itu sebelumnya dikenal dengan nama Komisi untuk Bacaan Rakyat. Fungsinya adalah menyaring dan memberi standar pada karya atau tulisan mana yang “pantas” untuk dibaca oleh rakyat. Sebuah monopoli kebudayaan telah dilakukan oleh penguasa masa itu.
Jika kebudayaan merupakan suatu jalan tak ada ujung, mustahil untuk menemukan puncak dari kemajuan budaya. Keterbukaan para pembaca terhadap bacaan—khususnya sastra pada zaman sekarang ini—memang merupakan hal positif bagi ekosistem kesusastraan itu sendiri. Mungkin sudah tidak ada lagi sebuah karya yang dilarang untuk dibaca atau diterbitkan karena satu dan lain hal. Banyaknya karya penulis lokal yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa juga dapat menjadi salah satu indikasi bahwa kesusastraan kita telah mengalami banyak sekali perkembangan.
Akan tetapi, di antara berbagai macam progres tersebut, nampaknya ada satu hal yang tertinggal, yaitu sastra anak. Kini sudah hampir 80 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan kolonial. Selayaknya bangsa yang merdeka, Indonesia bebas menentukan akan ke mana arah bangsanya, termasuk arah kesusastraannya.
Riris K. Toha-Sarumpaet pernah menyatakan dalam salah satu bukunya, bila kita percaya pada aksioma bahwa anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, maka dapat pula dikatakan, bahwa dengan membaca karya sastra anak, sebenarnya kita juga sedang membaca masa depan bangsa kita sendiri. Masih dalam buku tersebut juga diterangkan, secara teoretis, sastra anak adalah sastra yang dibaca anak-anak dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa.
Di antara puluhan atau ratusan penulis yang karyanya sudah kita baca belakangan ini, berapakah di antaranya yang merupakan penulis cerita anak? Satukah? Dua? Mungkin juga tidak ada sama sekali. Hal ini terjadi bukan karena kita adalah seorang dewasa yang sudah tidak pantas membaca bacaan anak, melainkan kenyataan betapa kecilnya perhatian kita terhadap dunia anak. Sastra atau bacaan anak adalah salah satu dari banyak wilayah dalam dunia yang luas tersebut.
Memang tidak semua anak benar-benar membaca sendiri buku bacaannya. Selebihnya, justru para orang dewasa yang membacakan buku tersebut kepada mereka. Maka dari itu, dibutuhkan juga pemahaman serta pandangan kritis mengenai sastra atau bacaan anak pun kepenulisannya dari para orang dewasa.
Upaya untuk meningkatkan kualitas bacaan anak sebetulnya sudah mulai dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pada Desember 2019 lalu, Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta untuk pertama kalinya mengadakan sayembara cerita anak. Sayembara tersebut tidak menghasilkan pemenang utama.
A.S. Laksana, Hamid Basyaib, dan Reda Gaudiamo dalam laporan pertanggungjawabannya sebagai dewan juri sayembara cerita anak DKJ menyatakan bahwa para peserta tidak sedang menuliskan cerita untuk anak, melainkan cerita tentang anak. Mereka kurang memiliki kecakapan dalam menuliskan cerita anak. Mulai dari tidak adanya tokoh dengan karakter yang kuat, paragraf yang terlalu panjang untuk dibaca oleh anak, sampai jumlah halaman yang terlampau tebal. Di dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa ada peserta yang menyerahkan naskah setebal 340 halaman.
Membiarkan sastra atau bacaan anak ditulis secara serampangan juga asal-asalan sama saja seperti membiarkan induk ayam mengajari anak elang untuk terbang. Ayam memang termasuk jenis unggas, tetapi ayam tidak bisa terbang. Dan rasa senang serta tenang melihat anak-anak anteng dengan bacaan tanpa pengawasan dari para orang dewasa merupakan kenyataan yang memilukan.
Anak-anak merupakan masa terbaik tumbuhnya harapan. Dan hal itu harus kita rawat dan jaga dengan baik, salah satunya lewat bacaan. Bacaan anak yang baik biasanya juga akan menarik perhatian orang dewasa. Menuliskan atau membacakan cerita untuk anak-anak akan membantu kita menjaga harapan tersebut yang rasanya semakin lama makin terkikis seiring bertambahnya usia.
Sudah saatnya sastra anak ditempatkan pada lingkungan yang layak. Yang pantas dilihat, diperdengarkan, atau dibaca sendiri oleh anak. Di atas ranjangnya yang nyaman. Di antara kehangatan sebelum mereka sampai pada dunia yang kadang kala berwujud sangat mengerikan.
Rasanya masih melekat dalam ingatan saya, setiap jam sudah menunjukan pukul sembilan, ibu saya akan menyuruh saya berhenti bermain untuk segera beranjak ke ranjang dengan iming-iming dibacakan sebuah dongeng. Dengan senang hati saya akan bergegas menuju kamar. Bukan karena senang akan dibacakan cerita sebelum tidur, melainkan karena biasanya, ibu saya akan ketiduran di tengah pembacaan ceritanya sehingga saya bisa melanjutkan main yang sebelumnya urung selesai. Ternyata memang benar, cerita anak yang baik adalah yang juga dapat dinikmati oleh para orang tua, hingga orang tua tersebut lebih dulu terlelap sebelum anaknya sempat mengejap.
Referensi
Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak Edisi Revisi. Jakarta: Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional.
https://dkj.or.id/komite/sastra/keputusan-dewan-juri-sayembara-cerita-anak-dkj-2019/diakses pada 21/02/2019 pukul 12.15 WIB
0 Komentar