Penulis: Rae Fadillah

Penyunting: L. Sadra


“Siapakah masa kini?” Pertanyaan tersebut pernah dipertanyakan oleh Afrizal Malna dalam buku Pada Batas Setiap Masakini, dan Tuhan menjawabnya melalui Teater Garasi. Kelompok teater Garasi Institute seperti sedang menjadi bagian kecil dari upaya Tuhan untuk menceritakan masa lalu dengan gambaran masa depan di masa kini.

Pementasan yang dilakukan oleh Garasi Institute pada tanggal 17–18 Agustus 2023 di Graha Bhakti Budaya dalam rangka acara Djakarta Theatre Platform, mementaskan Waktu Batu #4 Rumah yang Terbakar—melanjutkan tiga seri sebelumnya yang dimulai pada tahun 2001—sebuah kisah epik Watugunung (seorang raja dari Kerajaan Gilingwesi), Murwakala, dan Sudamala. Latar cerita ini memainkan cerita dari masa lalu, tetapi dibuat seakan dekat sebagai refleksi saat ini dan melemparkan penonton manusia-manusia ke sebuah ruang yang jauh. Ruang yang gelap dan double entendre. Ruang di batas-batas kesadaran masyarakat. Ruang eksperimen Tuhan dalam melakukan silang-media (video game, sinematografi, dan teater) untuk meleburkan batas-batas ruang pengamatan antara dua ruang berbeda, realitas dan hiperrealitas. Di sinilah Tuhan bekerja menjadi penyunting—editor naskah di tengah pementasan—ragam jalinan kisah yang menghancur-lebur-kan batas ruang dan waktu.

Barangkali, Tuhan tidak pernah begitu peduli dengan cerita ini harus dimulai dari mana. Dan dengan cara ini ia mencoba untuk menyajikan jawaban (atau setidaknya secara alternatif) tentang masa kini. Lagipula ia tau, ia sedang menyunting video-text-yang-bergerak. Tuhan melihat waktu bukan seperti sesuatu yang sifatnya linear, tetapi dilihat secara bercabang. Sebuah cerita, atau lebih tepat sebagai statement simbolis yang bergerak melalui berbagai media. Tuhan dengan terang menyajikan kesibukannya; menghadirkan NPC (Non Playable Character) yang malas mengisahkan Watugunung dari ruang tengah, kelaparan sang Kala dan orasi fafifu sang ibu dari sebuah dapur yang dijajah feminisme-didaktis edisi ke sekian ketimbang memberi makan Sang Kala, Street Fighter yang tiba-tiba menabrak dimensi keempat, atau jangan-jangan, tidak pernah ada dimensi keempat karena semua ruang sudah hancur-lebur dan semua telah menjadi manusia dalam dunia yang sama. Dunia yang reot, rapuh, dan penuh dengan alam yang dinikmati secara virtual. Dunia yang membangun rumah dari instalasi batu-batu yang palsu. Dan yang secara ironisnya, di sinilah kami tinggal.

Kami adalah sekumpulan manusia yang bingung dan diatur oleh Tuhan yang labil. Ia, juga begitu lucu dan menggemaskan dalam merancang storyline yang puitik dengan checkpoint yang kaotik, seperti dangdut-industrial ala Melbi (Majelis Lidah Berduri). Kami tahu, sadar, bahwa apa yang kami lihat tidak berbeda dengan kami: Sebuah program kompleks. Namun, kami pun juga berkaca dan menyadari bahwa kami sebagai manusia hanyalah variabel-variabel simpel di dalam program yang sangat kompleks. Sekumpulan variabel yang berjalan dari satu checkpoint ke checkpoint lain. Seolah kami selalu tahu dengan apa yang kami hadapi—begitu pula dengan Watugunung, Murwakala, Sudamala dan tokoh-tokoh lainnya—padahal semuanya bisa dengan mudah disunting ruangnya dan mengacak latar waktu yang maju-mundur-jumpalitan. Barangkali dari sana juga kami memahami bahwa sejarah atau masa lalu tidak pernah kita miliki, dan masa depan adalah masa kini yang kita pandang secara jauh, seperti sebuah checkpoint yang mengelabui kami terus menerus.

Kami adalah bagian dari masa kini yang merupakan sebuah entitas yang kali ini Tuhan sajikan ke dalam pementasan Teater Garasi. Kami hidup pada batas realitas—sesuatu yang hiper—dengan waktu. Sejarah atau masa lalu tidaklah berbeda dengan masa depan. Kini, kami melihatnya seperti bagaimana seseorang yang menyembah Tuhan di genggaman tangan selama 24/7. Sesuatu yang lalu dalam sepersekian detik tak lagi dimiliki, hilang dan lenyap dan menjadi masa kini yang lagi-lagi menjadi satu-satunya hal yang dimiliki. Kami tak pernah punya masa lalu. Masa lalu bukan sesuatu yang dapat dimiliki dan masa depan adalah sesuatu hal yang tak pasti, sesuatu hal yang dalam sepersekian detik juga dapat lenyap dan menjadi masa kini. Masa depan dan masa lalu terus berangsur, berputar dan kembali pada titik yang akhirnya disebut kembali sebagai masa kini. Dan pada akhirnya kami akan terus berputar pada garis waktu yang tetap dan bekerja dalam proses penyuntingan yang tidak memungkinkan adanya entitas selain masa kini.

Kini, bagaimana pada akhirnya kami dapat berhasil bertemu dengan kalian? 

Ada satu hal yang perlu ditegaskan: Kami berbeda dengan kalian. 

Kalian hidup pada batas ruang di luar kami: realita yang tidak blur tanpa pertanyaan mana yang nyata kini. Keadaan yang riil tanpa aplikasi editing dan dapat kalian tentukan sendiri nasib dalam ruang tersebut sambil merisaukan mana yang lalu dan nanti. Berbeda dengan kami yang memiliki paradigma terhadap ruang hidup kami yang tidak lagi jelas mana yang nyata. Namun, kami memahami dunia kami adalah dunia yang fana meskipun dengan kesadaran akan hal itu, dan kami tetap memutuskan untuk hidup dalam dunia itu. 

Pada batas masakini, realitas dan hiperrealitas pun dipertemukan dalam interaksi kami dengan kalian. Kalian, duduk manis, perlahan dalam kekacauan memasuki batas ruang-waktu yang hancur-lebur. Kalian melihat dunia kami dan mempertimbangkan keberadaan ruang: siapakah yang sedang menjadi kami atau kalian kini? Beberapa hal yang kalian temukan seperti joystick keluar dari dimensi keempat yang membuat kami dan kalian saling tarik-menarik dalam interaksi, seolah kami dan kalian juga lebur menjadi Tuhan yang sama. Kami diberikan kesempatan untuk memandang simulasi dengan jelas dan terang. Laser-laser hijau persegi di mata kalian mungkin akan mengingatkan kalian dengan film Holy Motors karya Leon Carax yang menyindir eksistensi manusia dalam keadaan sadar sedang berperan dalam narasi rekaan yang dapat disunting seenak kalian menentukan nasib. 

Namun, kami tidak sedang satir, kok. Kami dengan sadar meyakini bahwa dunia kami adalah dunia rekaan, tapi bagaimana dengan kalian? Kami yakin dunia kalian tidak seperti kami yang palsu dan berpura-pura, kami sadar kerusakan alam di dunia kami hanya ilusi optik dan informasi memuakkan yang sekadar lewat untuk dilupakan, lagipula kalian juga tidak pernah begitu memperhatikan dunia kami, bukan? Ya, karena kalian punya dunia yang lebih riil untuk diurusi. Bukan dunia yang diktat. Dunia yang penting untuk diamati dan tidak sesak akan happening art, dunia yang tidak meromantisisasi sampah sebagai fashion, dunia yang tidak memandang patriarki sebagai iklan layanan masyarakat, dunia tanpa politik yang nyaring, dunia dengan rumah yang dibangun dari kayu murah dengan harga tinggi, dan bukan dengan rumah yang dibangun dari sampah kapital yang berkamuflase dalam agenda agen-agen kehancuran yang membuat kalian bertanya: di manakah kami tinggal? Masa lalu atau masa depan? Sebab masa kini kami juga sudah habis, dan tiada tersisa selain waktu yang berdiam dalam omong-kosong orang kegelapan, seperti rumah yang dibangun dengan batu dari dunia yang seolah ada, semacam distopia yang kita cap sebagai utopia.

Saat ini, masa kini terus memperbarui dirinya dalam  meleburkan identitasnya sebagai bagian dari yang lalu dan nanti. Seperti kenyataan yang direka, dirancang, dan disunting terus menerus menjadi sesuatu yang berjalan beriringan: antara masa lalu dan masa depan yang terus menjadi bagian dari masa kini.