Kebobrokan Pemilu 2024 Dikemas dalam Polarisasi Musikal

 
Penulis: Nindita Utami

Penyunting: Karina Alya


Hati-hati polarisasi! 

Pemilu atau pemilihan umum merupakan pesta demokrasi yang dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia setiap lima tahun sekali. Pada pemilu tahun ini, kampanye terasa semakin mudah. Hal ini disebabkan oleh tingginya angka pemilih muda dan maraknya penggunaan media sosial. Para pasangan calon dapat menggunakan seluruh platform untuk berkampanye, seperti Tiktok, Facebook, Instagram, dan X. 

Melalui media sosial, dapat dibilang bahwa para paslon tidak perlu mengeluarkan banyak usaha. Mengapa? Karena apa yang dilakukan warganet turut membantu kampanye setiap paslon secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu contohnya adalah warganet gemar sekali memotong sebuah video–entah itu video pidato atau wawancara seorang capres–menjadi cuplikan pendek dan cuplikan tersebut di-goreng oleh warganet lainnya. 

Hangatnya isu Pemilu 2024 yang cukup up-to-date ini kemudian dikemas oleh Da Lopez Brothers–Jovial dan Andovi–menjadi sebuah pertunjukan teater musikal yang berjudul Polarisasi Musikal. Sebelum itu, apakah #WarGaung sudah tahu apa definisi dari polarisasi? 

Menurut KBBI, polarisasi adalah pembagian atas dua bagian (kelompok orang yang berkepentingan dan sebagainya) yang berlawanan. Kata ini cukup menggambarkan situasi masyarakat Indonesia setiap menjelang waktu pemilihan umum. Melalui Polarisasi Musikal, Jovial dan Andovi menampilkan isu-isu hangat yang sebetulnya tidak hanya relate di Pemilu 2024, melainkan juga di pemilu tahun-tahun sebelumnya. Secara garis besar, Polarisasi bercerita tentang pemilu dengan Reska (Jovial Da Lopez) dan Tjokro (Andovi Da Lopez) sebagai calon presiden beserta usaha mereka di balik layar untuk menaikkan elektabilitas ketika pemilu nantinya. 

Teater musikal ini menggambarkan betapa banyaknya pihak yang turut andil dalam mengambil keputusan seorang calon presiden. Bahkan, tidak sedikit cara kotor yang digunakan dalam berkampanye. Hadirnya Polarisasi membantu para penonton jadi sedikit melek akan isu-isu politik dalam pemilu yang sebenarnya telah membelenggu kita sejak bertahun-tahun yang lalu. Salah satunya adalah isu agama sebagai topik yang sangat disukai masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, politik identitas. 

Isu lain yang disinggung dalam musikal ini berkaitan dengan janji manis yang diucap oleh para calon presiden. Terkait hal ini, terdapat dialog yang cukup membuat sadar betapa mudahnya masyarakat terbuai dengan kata. Dialog tersebut kurang lebih berbunyi seperti ini: 

Janjikanlah hal-hal yang tidak masuk akal kepada masyarakat agar elektabilitasmu naik!”

Tapi yang namanya janji harus ditepati.”

Yang terpenting itu adalah menang dalam pemilu! Nanti kalau sudah jadi presiden dan janji tersebut tidak terlaksana, apa sanksinya? Tidak ada!” 

Kemudahan kampanye di pemilu tahun ini membuat para pemilih–terutama pemilih muda–harus lebih bijak dalam menerima dan menyeleksi suatu informasi. Karena dilihat dari yang sudah-sudah, kebanyakan warganet lebih memilih percaya informasi dari akun yang mereka suka dibandingkan dengan fakta. Seorang pemilih berarti sudah dianggap cukup dewasa dan dapat memeriksa kebenaran akan suatu informasi yang bertebaran. 


Kalau mengutip dari lagu Hati-Hati Polarisasi, sih, 

Dewasa dalam demokrasi. Cari tahu fakta-fakta, jangan tertipu kata-kata!



Posting Komentar

0 Komentar