Hamparan keindahan menyibukkan mata atas segala yang kupandang di sini. Mereka selalu ada, menemani kesunyian yang selalu terlena akan kenikmatan. Oh, salah. Bukan kenikmatan yang aku cari, tetapi aku ingin dinikmati. Pernahkah kalian merasa seperti itu? Kau harus merasakannya wahai pembaca setia. Aku adalah sebuah dasar, dasar yang selalu menyimpan segala bentuk murni dari hamparan kehidupan. Aku di sini, diam serta menjaga keseimbangan yang memang seharusnya aku jaga. Dewi Laut, selalu menasihatiku tentang harapan. Ia juga bilang.
“Aku percayakan segala makhluk di sini beserta segala keindahan yang terpendam padamu, jangan pernah kau menjadi sebuah harapan jika yang ingin menggapaimu tidak benar-benar menginginkanmu.”
Ya, terakhir kali kami bertemu aku memang sedang berada di ambang kekecewaan. Pernah datang seorang manusia kemari, ia benar-benar menganggapku sebagai harapannya. Ia nikmati segala hal kecil dari diriku, mulai dari hamparan terumbu karang yang menunjukan segala bentuk dari kehidupan, lalu kerang-kerang yang selalu memproduksi sebuah benda kecil berkilauan, dan juga bintang laut yang hinggap pada diriku.
Manusia itu sangat menghargai apa yang aku miliki. Ia cinta padaku, tanpa perlu mengungkapkannya. Cukup dengan segala tatapan dan juga raut wajahnya. Kebahagiaan selalu terpancar dari dirinya. Ia begitu bebas, bahkan sangat bebas. Ia telusuri segala isi diri ini, lalu menyentuh dengan lembut pasir putih yang terhampar sepanjang diriku. Aku benar- benar jatuh cinta padanya. Ketulusan dan keikhlasan terlihat jelas dari dalam hati hingga raganya.
Namun, manusia merupakan makhluk yang fana. Aku benar-benar merasa menderita melihatnya. Tubuh kecilnya, mulai membungkuk. Lalu, beberapa hari setelah itu ia mati. Mati di atas tubuhku, meringkuk memeluk pasir putihku. Oh, Dewi Laut, apakah suatu hari akan datang lagi seorang manusia yang benar-benar tulus mencintai keindahan ini tanpa mengharapkan budi sepertinya? Aku ragu akan hal itu.
Benar, memang benar. Beberapa tahun setelah kematian manusia yang menjadikanku harapan tanpa membutuhkan sebuah balasan, muncul sosok yang baru memasuki permukaan. Aku terus memperhatikannya di bawah sini? Apakah ia cukup mencintaiku sehingga memasuki air yang bukan tempat seharusnya ia tinggali? Mulai ia berenang menuju diriku, bertemu dengan berbagai rintangan berbahaya. Apa ia benar-benar menganggapku sebagai harapan? Sepertinya kali ini tidak.
Di tengah perjalanan, ia terus mengeluh. Membuatku muak dan menepisnya untuk dapat mencapai diriku. Ia bertemu dengan seekor ubur-ubur, ia tersengat dan mengeluh.
“Sial, begitu berat rintangan ini,” kulihat ia tengah mengepalkan jari menunjukan sebuah kekesalan. Dengan begitu, aku memutuskan untuk meminta pertolongan pada Dewi Laut.
“Wahai Dewi Laut, tolong ciptakan sebuah kegelapan yang membatasi antara permukaan dan dasar.”
Akhirnya, Dewi Laut menjawab dan mengabuli segala doaku. Ia ciptakan kegelapan sepanjang hamparan laut biru diantara permukaan dan dasar. Lalu, manusia yang banyak mengeluh ini bertemu dengan kawanan penyu. Ia meminta pertolongan pada salah satu ekor penyu.
sumber gambar: Pinterest |
“Wahai penyu yang agung, tolong bantu aku mendapatkan dasar laut,” manusia berkata dengan wajah penuh pesona seakan menghasut pikiran dari penyu itu. Penyu itu akhirnya bersedia mengantarkan manusia untuk menemuiku. Manusia naik ke punggungnya yang keras dan berenang ke arah kegelapan yang menjadi batas dunia. Ketika memasuki kegelapan, ia terus berteriak.
“Sial, kenapa sesulit ini?” teriakannya sangat keras, namun aku tidak dapat melihatnya karena benar-benar gelap. Kira-kira seribu tahun lamanya, kudapati kabar dari Dewi Laut bahwa orang itu telah mati. Sedangkan penyu, diantarkan pergi dengan sihir yang ajaib dari Dewi Laut. Dewi Laut menghampiriku dan berbicara padaku.
“Jangan sembarang kau beri harapan, atau mereka yang tidak benar-benar tulus akan menghancurkanmu.”
Aku hanya bisa diam mendengar segala yang Dewi Laut katakan. Setelah itu, aku telah benar-benar tidak mengharapkan lagi untuk dapat dinikmati oleh seorang manusia. Aku telah menjadi sosok keindahan yang benar-benar tersembunyi dan tidak ingin dijamah sama sekali. Berhari-hari, berminggu-minggu, aku menghabiskan waktu dengan bahagiaku sendiri. Menikmati keindahan, dari tubuhku ini, meluangkan sisa hidupku untuk memenuhi perintah Dewi Laut menjaga keseimbangan alam.
Tetapi, nasib berkata lain. Ternyata, kehidupanku sebagai dasar laut yang menyendiri bukanlah takdir. Nasib berubah seiring berjalannya waktu. Menepis segala stereotip dunia tentang diriku. Aku mulai ingin menjadi sebuah harapan lagi setelah melihat sosok manusia yang sangat tulus ingin mendapatkanku. Setiap hari, ia memandangi permukaan laut. Menunjukan raut wajah sedih dan terkadang tersenyum. Entah, apa yang ada di pikirannya.
Namun, suatu hari ia memutuskan untuk mengarungi lautan yang dingin tanpa pakaiannya. Ia benar-benar ingin merasakan setiap perjuangan dalam mendapatkanku, bukan karena ingin menaklukan alam tetapi karena ia anggap sebagai sebuah pengorbanan. Ia terjun ke laut dan bertemu dengan seekor hiu. Pada awalnya, hiu sangat ingin memakannya. Tetapi, Dewi Laut berhasil mengubahnya sebagai pikiran manusia itu sendiri. Hiu mulai tunduk dan mengikuti segala perintah manusia untuk menolongnya menemuiku.
Di tengah perjalanan, manusia itu dihantam oleh berbagai rintangan. Mulai memasuki beberapa meter, ia dihajar oleh sekumpulan lumba-lumba ganas. Mereka sangat kejam. Kulihat, badan telanjang dari manusia itu melebam memar di sekujur tubuh. Tapi, kulihat ia tetap tersenyum menahan rasa sakit yang dideritanya. Ia tidak mengeluh seperti manusia sebelumnya, bahkan ia berkata.
“Akan ada sesuatu yang indah, setelah aku melewati rasa sakit ini,” ia nyatakan itu kepada hiu yang sedang kebingungan.
Setelah itu, ia menyusuri lagi laut dan berenang ke bawah sambil mengendarai hiu tak bergigi. Bencana datang, ia ditarik oleh sekumpulan piranha laut ganas melebihi hiu-hiu yang bergigi. Ia dicabik dan hampir seluruh badannya tersayat. Tapi, hiu utusan Dewi Laut selalu menjaganya dari ancaman apapun. Manusia berhasil selamat, dengan tubuh penuh darah dan lebam. Lalu, ia bertemu dengan penyu yang mencoba mengantar manusia tukang keluh sebelumnya. Ia baru kembali dari kegelapan batas permukaan dan dasar.
Penyu terus menasihati manusia yang bersama hiu itu. Bahwa, dasar laut tidak ada dan ia telah mencarinya beribu-ribu tahun. Tapi, manusia itu tetap percaya bahwa diriku memang ada. Hatiku semakin tersipu melihat tingkahnya. Tetapi, aku masih belum percaya akan ketulusannya. Mungkin, ia hanya berpura-pura di hadapanku dan dari pengawasan Dewi.
Sedangkan hiu, kulihat ia mulai goyah pendiriannya. Ia memutuskan untuk kembali ke permukaan. Manusia tetap pada pendirian dan ketulusannya. Ia menghargai setiap jerih payah hiu, tapi ia tetap ingin menuju diriku. Manusia berenang sendiri untuk menuju kegelapan. Sebelum memasukinya, tiba-tiba hiu kembali datang dan menawarkan tumpangan pada manusia. Mereka berdua pun tenggelam dalam kegelapan batasku.
Berbulan-bulan, aku menantikan kabar dari Dewi Laut. Manusia itu tenggelam di dalam kesunyian tanpa meninggalkan suara. Sangat berbeda dengan manusia sebelumnya yang selalu mengeluh. Aku sepertinya mulai jatuh hati padanya. Ingin rasanya aku membantunya keluar dari kegelapan itu dan menyuguhinya dengan segala keindahanku. Aku menjadi bingung, rasa ini semakin bercampur aduk, keinginan untuk dinikmati oleh seseorang yang tulus, dan keinginan untuk tidak dijadikan sebagai harapan.
Akhirnya, aku memikirkan satu keputusan. Aku akan mempersilakan manusia itu datang ke sini. Doa kupanjatkan kepada Dewi Laut dengan penuh cita dan cinta untuk menghilangkan kegelapan itu. Oh, Dewi Laut benar-benar menghilangkannya. Kini, manusia itu terlihat jelas. Senyum indah dan seluruh ketulusannya. Ia memandangku dengan penuh rasa, entah rasa apa itu tapi yang kulihat ia sangat bahagia.
Setelah kegelapan hilang, manusia turun ke dasar laut yang merupakan tubuhku sedangkan hiu kembali ke permukaan meninggalkannya. Manusia memeluk segala pasir putihku, sama seperti manusia yang pernah mati di sini. Ia mengelus terumbu karang yang indah, dan menatap bintang laut dengan penuh rasa senang. Akankah ia menjadi penjagaku? Mungkin. Keseimbangan alam yang harus kujaga setidaknya sudah memiliki satu penjaga lagi.
Setiap hari, kulihat ia telentang menatap sinar matahari yang datang dari permukaan. Menikmati segala suasana yang hadir di sepanjang hamparan tubuhku. Ia berjalan di atas pasirku, mengelilingi sarang kerang tempat produksi mutiaraku, berlari di sepanjang hidupnya. Oh, Dewi Laut, terima kasih atas kepercayaanmu padaku untuk membiarkan manusia ini datang. Manusia ini telah terhipnotis oleh diriku, alam sekitarku, dan mungkin juga Dewi Lautku. Tetapi, sepertinya aku juga sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Ia memperlakukanku dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan balasan, tanpa mengharapkan keindahan, tanpa mengharapkan raga rupawan.
Ia dan aku sama-sama terlena. Di sini, di tempat ini, di tubuhku ini, mereka menjadi saksi akan kisah cinta kami berdua. Namun, tiba-tiba aku teringat akan sosok yang pernah mati. Apakah manusia kali ini akan membuatku menderita seperti dulu lagi? Oh, Dewi Laut, tolong beri ia keabadian sepertiku. Tapi, Dewi Laut sangat pemilih dalam menunjukan keajaibannya. Akhirnya, doaku ditolak sekarang.
Berhari-hari, berbulan-bulan, ia menunjukan segala ketulusannya. Hingga pada suatu hari rasa itu mulai pudar, ia sudah tidak mencintai keindahan diriku secara apa adanya. Ia mulai resah, gelisah, dan berjalan memutar-mutar seolah memikirkan sesuatu hal yang berat. Setelah melihatnya seperti itu, aku menjadi ikut gelisah. Bagaimana ia bisa berubah dalam waktu yang sesingkat ini? Bukankah awalnya ia sangat kagum padaku? Bukankah pada awalnya ia sangat menginginkanku? Oh, Dewi Laut tolong bantu aku. Ternyata, ia telah membawa kegelapan yang aku ciptakan kepada diriku.
Manusia itu mulai menunjukan sifat aslinya, ia adalah orang yang mudah bosan dengan hal yang biasa. Awalnya, mungkin ia menganggapku sebagai hal yang luar biasa. Tetapi, ia membutuhkan sesuatu yang lebih sekarang. Ia menginginkan keindahan yang lebih. Manusia itu mulai mengubah-ubah posisi keindahan yang ada di tubuhku. Ia memindahkan bintang laut yang biasanya berada di antara terumbu karang ke pasir putih yang biasa dihinggapi oleh kerang-kerang. Sedang kerang, ditukar posisinya dengan bintang laut ke sekitar terumbu karang.
Bukan hanya itu, terumbu karang yang sudah bosan untuk dilihat olehnya dihancurkan dengan tangan hinanya, tangan yang pada awalnya terluka saat ingin menunjukan ketulusannya akan diriku. Kini, ia benar-benar menjadi orang yang haus akan kelebihan. Apakah ini sifat dasar manusia? Ya, sepertinya begitu. Aku sangat kecewa dengan segala perlakuannya. Orang yang pada awalnya kukira dapat membantuku dalam menjaga keseimbangan alam ini malah merusak keadaan tubuhku sendiri.
Kini, ekosistem di tubuhku mulai berubah. Sebagian makhluk pergi, dan sebagian lagi mati. Mereka dipindahkan tidak sesuai dengan habitat mereka. Akhirnya, tubuhku sekarang bukanlah lagi sebuah keindahan. Alam yang kujaga selama ini sudah hilang, dan keindahan ini sudah menjadi sebuah kenangan. Manusia gila, masuk untuk menuntut sebuah keindahan namun malah mengecewakan keindahan itu sendiri. Ya, manusia memang mudah bosan. Aku menghargai segala obsesinya, tapi untuk hal ini tidak dapat aku maafkan.
Aku menarik napas dalam-dalam sampai pasir putihku sebagian tersedot oleh diriku tenggelam bersembunyi di balik tubuhku, kupanjatkan doa kepada Dewi Laut untuk membuat seisi laut menjadi hitam. Aku benar-benar memohon padanya untuk mengabulkan segala keinginanku. Rasa cinta ini telah hancur, ia telah berubah dan sudah bukan manusia yang aku kenal lagi. Kini, ia mulai terlihat kebingungan dan menatap penuh rasa heran dengan kejadian yang menimpanya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi ia pasti sedang merasa menyesal. Sekarang, yang aku ingin hanya kematiannya. Tiba-tiba saja aku bisa mengeluarkan suara layaknya manusia dan aku berkata.
“Biarlah semuanya hancur, tidak perlu ada keindahan lagi. Di mana letak hati nuranimu wahai manusia? Aku telah memberikan segalanya untukmu dan kau malah menghancurkannya hanya karena kau mengikuti egomu untuk mendapat keindahan yang lebih lagi. Kau tidak pernah bersyukur.”
Seketika setelah mengatakan hal itu, mulai dari permukaan muncul sebuah warna hitam. Warna itu terus merayap ke bawah dan secara perlahan menutupi diriku yang sudah terlanjur hancur. Kini, aku sudah tidak dapat melihat apapun. Cahaya mentari bahkan tidak bisa menembus kekuatan gelap dari Dewi Laut. Aku benar-benar tidak mencemaskan manusia itu lagi, yang aku inginkan sekarang adalah beristirahat dalam kedalaman yang gelap dan juga sunyi.
Bertahun-tahun kegelapan memenuhi laut dan segala isi. Aku masih menjadi bayangan dalam sunyi. Laut benar-benar sepi. Hingga pada hari itu Dewi Laut beraksi, ia membuang beberapa potongan tulang belulang dan melemparkannya kembali ke daratan, lalu tulang-tulang itu dibawa oleh beberapa anjing liar yang hidup di sekitar pantai. Setelah kejadian itu, laut pun kembali jernih seperti semula dan Dewi Laut menuntutku menjadi keindahan lagi.
Tamat.
0 Komentar