Bulan Februari Bukan Hanya Soal Valentine

(Sumber gambar dari Pinterest)
Penulis: Dwinda Andini
Penyunting: Yuda Prinada

Bulan Februari telah tiba. Musim dingin di kota-kota bersalju masih sama dinginnya seperti bulan Januari lalu. Musim hujan di kota-kota tropis masih senang mempermainkan perasaan para pejalan kaki yang berlalu. Bulan Februari benar-benar persoalan hati. Begitulah, bulan yang kita disebut bulan kasih sayang. 
Semua orang di dunia tidak dapat menolak bulan Februari yang datang ini. Mereka tidak dapat pula lari dari kenyataan bahwa statusnya masih sendiri. Momen besar bulan Februari yang selalu diagung-agungkan para pasangan, sudah siap membungkam para jombloers dunia. 
Pergerakan pasangan ini sejak lama telah menjadi gelombang mematikan yang melahap para muda-mudi yang meratapi nasib. Produk-produk cokelat seperti Silverq****n, Cadb*ry, T*bl*rone, dan sejenisnya menyiapkan tenaga kerja terbaik mereka untuk mendukung para bucin--budak cinta, dalam memperjuangkan cintanya. Toko-toko bunga di pinggir jalan, memilih menjual bunga mawar ketimbang menyediakan bunga-bunga narcissus, geranium, ataupun marigold. Bahkan, Kedai kopi, bioskop, dan toko-toko di pusat perbelanjaan tidak segan untuk memberikan diskon ataupun potongan spesial kepada para pasangan yang menikmati hari berduaan mereka.
Akan tetapi, bulan Februari bukan hanya persoalan 14 Februari yang merupakan Hari Valentine. Para jombloers dunia dapat bergembira dan meneriakkan kata “Hore!” sebagai kepuasaan hati dan jiwa karena terlalu lama terperangkap dalam putus cinta. Banyak sekali momen di bulan Februari yang tak kalah penting dari sekadar mengatakan “I love you, I miss you, and I need you”. Salah satu momen bersejarah yang terjadi di bulan Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional. 
Pada tanggal 21 Februari 1999, UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai badan PBB yang mengurusi bidang kebudayaan dan pendidikan, menetapkan hari tersebut sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Pada tahun 2000, PBB resmi mulai memperingati hari tersebut hingga hari ini. Bahkan, PBB telah menetapkan selama kurun waktu 10 tahun yang dimulai pada tahun 2022 hingga 2032 sebagai kampanye massal Hari Bahasa Ibu Internasional. Penetapan perayaan hari bahasa tersebut diputuskan pada penutupan sidang tahunan PBB di New York, Amerika Serikat pada tanggal 18 Oktober 2019. Resolusi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat adat di seluruh dunia untuk melakukan berbagai upaya dalam menyelamatkan Bahasa Ibu dari ancaman kepunahan. Keanekaragaman bahasa yang terus terancam ini sekaligus menjadi warisan budaya yang sangat disayangkan. Secara global, menurut catatan UNESCO, 40 persen penduduk tidak memiliki akses terhadap pendidikan dalam bahasa yang mereka ucapkan atau pahami. Hal inilah yang mendorong PBB untuk mengeluarkan gebrakan itu.
Ngomong-ngomong, ada kisah alias fakta yang sangat menarik dibalik lahirnya 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Asal-usul Hari Bahasa Ibu Internasional ini diusulkan oleh seorang warga Bangladesh yang tinggal di Vancouver, Kanada, bernama Rafiqul Islam. Kofi Annan, selaku Sekretaris Jenderal PBB pada masa itu, menerima surat yang berisi usulan untuk mengambil tindakan penyelamatan pada bahasa-bahasa di dunia yang jumlahnya kian menipis. Penetapan tanggal 21 Februari sebagai momen hari bahasa dipilihnya karena peristiwa penting yang terjadi di Bangladesh. Kemerdekaan yang terjadi di negara Pakistan pada 1947 tidak serta-merta membuat mereka bersatu, yang dalam hal ini adalah Bangladesh (Pakistan Timur) dan Pakistan (Pakistan Barat). Di dalamnya, terdapat konflik di mana keduanya berdebat soal bahasa mana yang pantas dijadikan bahasa nasional mereka, apakah bahasa Urdu ataukah bahasa Bangla. Singkat cerita, aksi unjuk rasa terhadap bahasa yang menelan nyawa itu berbuah hasil. Pada tahun 1956, pemerintah resmi memberikan status kepada bahasa Bangla.
Semoga, dengan mengetahui momen bersejarah tersebut dapat membuat orang-orang sadar bahwa bulan Februari bukan hanya persoalan cinta terhadap pasangan. Tidak peduli jomblo, single atau memang ngenes. Ada cinta lain yang tentunya jauh lebih berharga, yaitu cinta terhadap bahasa sendiri. Bahasa yang telah turut serta dalam perjuangan hidup seseorang. Jadi, ingatlah selalu kalau bulan Februari bukan hanya soal Valentine. Ada makna dan memori lain yang sama indahnya dari emosi, perasaan, cinta, dan rasa suka. 

Posting Komentar

1 Komentar