Penulis : Mutiara Januar
Penyunting: Naura S. Bisyri
Lagu “Wuthering Heights” yang diciptakan oleh Kate Bush pada 1978 mendadak muncul lagi dan secara masif digunakan di berbagai media sosial Februari 2026 lalu. Bukan tanpa alasan lagu itu mendadak viral. Semua itu terjadi karena film dengan judul yang sama, Wuthering Heights (2026) garapan Emerald Fennell, rilis di berbagai bioskop secara global. Warganet dunia menyambut perilisan film adaptasi novel Emily Bronte yang kesekian itu versi sutradara Emerald Fennell, sutradara Anna Karenina (2012) dan The Danish Girl (2015). Namun sejak perilisannya, banyak kritik tajam mengarah pada Wuthering Heights versi Fennel. Film ini, dari bisik-bisik warganet, merupakan bentuk interpretasi Fennel terhadap Wuthering Heights ketika ia remaja. Meskipun begitu, kebenaran bisikan tersebut perlu dicek kembali untuk memastikan kredibilitasnya. Pada sisi lain, artikel ini tidak akan membahas cerita di balik layar Wuthering Heights atau sutradaranya, melainkan kesan saya terhadap Wuthering Heights (2026) sebagai orang yang gemar menonton film.
Kemana Arah Wuthering Heights?
Adalah hal yang saya tanyakan sepanjang saya menonton Wuthering Heights. Bukan pada plotnya, melainkan pada penyajian film ini. Film dibuka dengan dua anak kecil, Cathy dan Heathcliff, yang tumbuh di lingkungan para brutal di Yorkshire Moore. Fennel menyajikan pemandangan yang epik dan warna yang suram yang sangat sesuai untuk memperlihatkan kasarnya kehidupan Cathy di Yorkshire Moor, daerah di utara Inggris. Hal yang sangat kentara adalah aksen para tokohnya yang terdengar berbeda satu sama lain. Saya sendiri bukan ahli di bidang fonetik, tetapi perbedaan aksen itu membuat saya bertanya-tanya, apakah ini disengaja untuk menunjukkan asal daerah atau kelas dari masing-masing tokoh? Jika demikian, mengapa ketika dua karakter (Cathy dan Heathcliff) dewasa, aksen mereka ikut berubah?
Hal lain yang tidak bisa saya abaikan adalah modernitas pada properti di Wuthering Heights yaitu busana dan tata rambut Cathy. Wuthering Heights Emily Bronte berlatar sekitar tahun 1847, yang jika dicari sejarahnya, merupakan era Victoria. Gaun berlengan balon yang transparan yang Cathy gunakan terlihat terlalu modern untuk ukuran cerita yang berlatar 1847. Apalagi gaun yang Cathy pakai di malam pernikahannya yang transparan dan menampilkan siluet tubuhnya.
Karakter utama film Wuthering Heights bernama Cathy menggunakan gaung berlengan balon yang transparan (Sumber gambar: Wuthering Heights, 2026)
Karakter utama film Wuthering Heights bernama Cathy menggunakan gaun yang transparan di malam pernikahannya (Sumber gambar: Wuthering Heights, 2026)
Tetapi jika ingin dilogikakan, mungkin karena keluarga Clinton adalah pengusaha tekstil sehingga Cathy memiliki akses yang lebih untuk mengeksplorasi fashion, meskipun saat itu mode fashion yang ia gunakan jauh sekali dengan fashion yang populer di eranya. Selain itu, tata rambut Cathy yang eksploratif, yang membuatnya terkesan memiliki dua tanduk, juga terlihat terlalu modern untuk latar 1847. Di tahun-tahun ini, tata rambut seharusnya dibuat supaya mudah memakai penutup kepala, topi, atau bonet alih-alih mencuat ke atas.
Modernitas yang disuntikkan ke dalam film yang diperankan oleh Margot Robbie dan Jacob Elordi ini tak hanya berbentuk konkret, namun juga berbentuk abstrak seperti ide fetisisme degradasi. Fennell membuat kekasaran dan kemiskinan Yorkshire Moor yang seperti antah berantah itu sebagai jembatan menuju perilaku seksual yang tidak wajar. Sekarang, kita tahu alasan Jacob Elordi ada di sana (menulis kalimat ini sambil tertawa). Sebagai catatan, saya belum pernah membaca novel Wuthering Heights jadi saya belum bisa memastikan apakah film ini interpretasi liar atau justru setia pada novelnya.
Latar yang modern dan fetisisme ini membuat saya berpikir bahwa apakah Fennell ingin memberikan novelty dari Wuthering Heights yang membuatnya berbeda dari film-film Wuthering Heights sebelumnya? Saya tidak bisa bilang bahwa Fennell mempertahankan latar tahun 1800-an dengan setia ketika ia dengan jelas menabrakkan latar dan nilai modern pada cerita era Victoria ini. Itu pula yang disayangkan. Jika ia memang bermaksud mencampurkan realitas modern dengan realitas novel, ia seharusnya menyorot dari awal dengan gamblang, contohnya seperti Poor Things (2023) atau drama TV Bridgerton (2024). Jika ingin mempertahankan plot, Fennell bisa belajar dari Nosferatu (2024) yang dengan jelas menekankan sisi horor dari cerita Count Dracula. Jadi, mau dibawa kemana kah Wuthering Heights ini?

0 Komentar