Penulis : Aisya Kamila Aziza
Adakah sesuatu, di jagat semesta ini, yang jauh lebih alami daripada cinta? Sebagian orang mungkin akan menjawab tidak, tetapi aku yakin bahwa begitulah kenyataannya. Aku pikir pengalamanku yang berkaitan dengan cinta dan kasih sayang sudah begitu banyak hingga aku dapat menyimpulkan bahwa: ya, pastinya tidak ada yang lebih alami daripada cinta. Cinta adalah sesuatu yang amat kuno. Jauh sebelum kita ada, cinta sudah terlebih dahulu ada. Reaksi kimia di otak yang menghasilkan cinta, seperti dopamin, oksitosin, dan vasopresin, sudah ada sejak zaman kuno. Neurokimia ini berevolusi jauh sebelum manusia modern untuk mendorong ikatan sosial dan simbiosis. Kehadiran cinta mengelilingi kita dengan begitu indahnya, sampai-sampai kita terkadang lupa bahwa ia sungguhan ada.
Lalu, apakah ada manusia di muka bumi ini yang belum pernah merasakan cinta? Aku pikir tidak ada. Cinta hadir dalam berbagai macam bentuk, ukuran, dan format. Terkadang, kita terlalu terpaku pada standar cinta tertentu; yang begini dan yang begitu, padahal belum tentu perasaan seperti itu dapat diatur. Kali pertama seseorang merasakan cinta adalah ketika mereka dilahirkan dan diberi nama–aku pikir. Fakta bahwa kita dapat berada di dunia ini saja sudah menjadi bukti bahwa cinta merupakan sesuatu yang amat dahsyat kekuatannya. Setelah itu, cinta mungkin hadir dalam cara orang tua dan keluarga kita memperlakukan kita, cara teman kita menerima kita, atau cara alam melindungi kita. Semua yang ada di bumi adalah cinta, jika kita mau menerimanya.
Akan tetapi, pertanyaan yang lebih penting adalah: jika memang benar cinta adalah sesuatu yang alami, mengapa kita–manusia–sering kali berusaha untuk mengatur, bahkan membatasinya?
Cinta sudah terbentuk sebelum manusia lahir di dunia. Sebelum otak kita dapat memproses hal di sekeliling dan menghasilkan hukum, norma, serta tatanan sosial, cinta telah lebih dulu mengisi ruang-ruang tersebut. Di heningnya malam, aku berpikir, “From love we were born, to love we return”, atau singkatnya, dari cinta kita lahir, dan di cintalah kita berakhir. Hal tersebut merupakan proses yang amat sangat alamiah bagi kita manusia. Untuk apa kita membohongi diri kita sendiri dan mengatakan bahwa cinta tidak pernah ada? Kita semua juga tahu jawabannya.
Tidak ada satupun makhluk hidup di dunia ini yang imun terhadap rasa cinta dan kasih sayang. Justru, kebalikannya. Kita membutuhkan cinta, lebih dari apapun. Cinta tidak terelakkan. Keberadaan cinta merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dan tak dapat dipisahkan dari bagian seorang manusia. Datangnya cinta ini pun tentu tidak dapat kita perkirakan. Sebagian dari kita mungkin berharap akan jatuh cinta pada seseorang dengan ciri tertentu, atau latar belakang tertentu, atau hal-hal lain yang menjelma syarat untuk dipenuhi. Akan tetapi, cinta bekerja dengan cara-cara yang kita sendiri tak dapat pahami. Spontanitas dan absurditas cinta adalah adalah alasan mengapa cinta terasa begitu natural. Cinta tak dapat dipaksa apalagi dikendalikan. Sungguh tidak ada aturan yang dapat kita berikan untuk cinta atau atas nama cinta. Melakukannya hanya akan menciptakan kerusuhan yang tak berujung. Untuk apa mengendalikan sesuatu yang sealami, setua, seliar cinta?
Hal yang begitu menarik dari manusia adalah fakta bahwa rasa takut sering kali memengaruhi cara kita berlaku. Apa yang begitu kita takutkan tentang cinta, sebenarnya? Banyak sekali pasal dan undang-undang yang mengatur cinta, tapi sepertinya belum ada yang mengatur kebencian. Mengapa ada sebagian cinta yang didukung, disetujui, dan dirayakan sedangkan yang lainnya diperlakukan layaknya dosa yang paling hina? Apa bedanya kedua cinta itu?
Tidakkah hal tersebut membuat kalian berpikir sejenak? Prasangka buruk mudah sekali mengisi benak dan hati kita dengan rasa takut dan benci, tapi apalah keduanya jika dibandingkan dengan cinta. Jika melihat dua insan saling mengasihi–dengan cara mereka masing-masing–masih membuat kita ngeri, maka ada yang salah dengan cara kita mengartikan cinta. Sejak kapan cinta dilarang karena tidak memenuhi standar (yang dibuat oleh manusia sendiri!)? Cinta bukan barang, bukan juga komoditas. Biarkan dia tumbuh dan bermekaran dengan sendirinya.
Sebagai makhluk yang katanya paling logis, pandangan manusia tentang cinta cukup membingungkan. Lebih sering iya daripada tidak, aku melihat cinta dinegosiasikan dan diperjualbelikan. Baiklah, kalau memang itu tuntutan zaman. Namun, bagaimana bisa perasaan yang gemar menggelitik perut dan membuat orang tersenyum-senyum sendiri (yang orisinal lagi gratis) dikesampingkan oleh orang-orang yang sama yang menginginkan cinta itu juga? Apakah mereka khawatir akan fakta bahwa mereka tidak dapat mengatur kepada siapa cinta mereka berlabuh? Bisa saja kepada laki-laki bisa juga kepada perempuan. Kalau mereka beruntung, kepada sekadar orang. Bagaimanapun juga, cinta adalah cinta. Itu saja.
Aku mungkin belum tahu semua hal yang perlu kuketahui, tetapi aku tahu satu hal: aku suka cinta, mencintai, dan dicintai. Bukankah semua orang begitu? Cinta mengharuskan kita untuk menjadi versi terbaik dan terjujur dari diri kita sendiri. Cinta menuntut kita untuk saling memahami, saling memaklumi. Cinta meminta kita untuk bertahan dan berjuang. Dahulu, cinta bahkan mampu membuat ribuan orang pergi berperang. Dunia tanpa cinta adalah dunia yang kelam dan dunia yang mengkotak-kotakkan cinta adalah dunia yang telah kehilangan salah satu keajaiban besarnya.
Jadi, sudah bosankah kita menjadi dunia yang demikian kelam? Padahal, ada begitu banyak warna indah yang dapat menghiasi jiwa kita seandainya kita mau membuka mata dan menerima bahwa cinta adalah cinta. Tidak kurang.
Selamat berbangga, siapa pun yang mampu mencinta! Referensi: Babková, J., & Repiská, G. (2025). The Molecular Basis of Love. International journal of molecular sciences, 26(4), 1533. https://doi.org/10.3390/ijms26041533

0 Komentar