Fenomena T-Pop Berpotensi untuk Menggeser Kepopuleran K-Pop?

 




Penulis   : Aisyah Nabilah Putri

Penyunting: Mutiara Januar


Industri hiburan Tailan tampaknya mulai berhasil mencuri perhatian banyak masyarakat global. Jika di Korea Selatan dikenal dengan Korean Hallyu-nya, di Tailan fenomena semacam ini disebut sebagai T-Wind (Thai Wind). Sebuah istilah untuk mendeskripsikan fenomena budaya pop Tailan yang mulai mendunia. Istilah ini muncul sebagai pembanding atas keberadaan Korean Wave yang lebih dulu populer. Industri yang sering diasosiasikan sebagai penghasil Boys Love Drama ini ternyata juga menghasilkan industri musik yang mulai mendunia, salah satunya adalah Thai Pop. Thai Pop atau yang sering disingkat T-Pop merupakan genre musik populer yang berasal dari Tailan. Dengan lirik yang masih kental akan bahasa Thai, musik ini mewakili identitas budaya Tailan. Meskipun demikian, hal ini bukan menjadi penghalang para penggemar untuk menikmati musiknya dan justru semakin melekat di benak penggemarnya. Genre ini semakin dikenal oleh masyarakat luas sejak era COVID-19 dan diperkuat dengan adanya promosi budaya Tailan melalui makanan, drama, hingga fesyen.


LYKN (dari kiri ke kanan; Nut, Hong, Lego, Wiliam, dan Tui)
Sumber: Riser Music





Banyak yang berpendapat bahwa T-Pop tidak hanya sebatas pada boy group atau girl group saja, tetapi meliputi indie pop ataupun subgenre lainnya. Contohnya, seperti Jeff Satur, Tilly Bird, dan Billkin yang menawarkan identitas baru pada genre musik, yakni memadukan antara musik tradisional khas Tailan dengan pop, hip-hop, dan rock kontemporer.

Namun, tentu saja, yang baru-baru ini banyak menarik perhatian adalah boy group dan girl group mereka. Beberapa di antaranya adalah BNK48, 4EVE, FELIZZ, ATLAS, BUS, dan LYKN.

Lantas, Apa yang Membuat Industri T-Pop Semakin Meluas?

Bagi orang awam, mungkin musik T-Pop tidak terlalu masuk ke telinga mereka karena liriknya yang tidak familiar. Namun, bagi penggemar, musik T-Pop merupakan jenis musik yang easy-listening dengan lirik dan aransemennya mengandung emosi kuat sehingga penggemar dapat dengan mudah memahami makna lagunya. Hal ini dapat terjadi karena memang musik T-Pop memiliki pangsanya tersendiri. Kebanyakan para penggemar T-Pop bermula dari penggemar drama atau film Tailan yang kemudian tertarik untuk menelusuri musik-musiknya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri jika T-Pop saat ini sudah merebut pangsa Asia hingga Amerika. Hal ini terlihat dari konser-konser maupun temu penggemar yang diadakan oleh beberapa grup T-Pop atau bahkan soloisnya, seperti BUS, LYKN, serta Jeff Satur.

Faktor yang dapat mendukung T-Pop berada di puncaknya saat ini memang tidak terlepas dari pengaruh media sosial. Banyak agensi T-Pop yang menjadikan media sosial sebagai platform untuk memperkenalkan dan mempromosikan artis-artisnya. Platform seperti TikTok kerap digunakan untuk membuat konten berupa dance challenge bersama artis lainnya.

Selain itu, faktor utama terjadinya peningkatan popularitas ini juga karena adanya peningkatan kualitas pada segala aspek. Industri musik Tailan tampaknya mulai menetapkan standar baru dalam produksi, penulisan lagu, dan pengembangan artis. Contohnya seperti memberlakukan sistem pelatihan yang intensif dan melakukan seleksi melalui ajang survival. Beberapa agensi T-Pop telah mengadopsi budaya Korea ini, seperti BUS dari Sonray Music, ATLAS dari XOXO Entertainment, serta LYKN dan FELIZZ dari Riser Music.

Faktor lain yang membuat para penggemarnya betah untuk tetap berada di “lintasan” ini adalah karena kehidupan idol T-Pop tidak seketat K-Pop. Para idol cenderung lebih bebas dari aturan ketat sehingga mampu membaur dengan para penggemar. Mereka bahkan dapat dengan bebas bepergian tanpa pengawalan yang ketat. Para penggemar juga dapat dengan mudah menemukan mereka di tempat-tempat umum, seperti di jalan ataupun transportasi umum.

Sekarang yang Menjadi Pertanyaannya, Apakah Saat Ini T-Pop Mampu Menggeser Kepopuleran K-Pop? 

Rasa-rasanya masih terlalu dini untuk menilai apakah T-Pop mampu menggeser popularitas K-Pop yang memang sampai detik ini masih merajai puncak lagu pop. Namun, bukan hal yang tidak mungkin juga untuk T-Pop menjadi salah satu “langkah selanjutnya” bagi industri musik global setelah J-Pop dan K-Pop mengingat potensi T-Pop saat ini masih terus berkembang ke arah positif. Tinggal bagaimana stakeholder terkait mampu mempertahankan dan melambungkan lebih tinggi nama T-Pop bahkan T-Wind.


Sumber:
Dufell, R. (2025, May 29). The T-Wind is blowing: will Thailand be Asia’s next soft power giant? Tatler Asia. Retrieved June 19, 2026, from https://www.tatlerasia.com/power-purpose/impact/thailand-soft-power
 
Nissa, R. S. I. (2023, February 3). Wisatawan Jalur Drama Thailand Semakin Banyak, Thai Pop Culture Bakal Saingi Korean Wave? suara.com. Retrieved June 19, 2026, from https://www.suara.com/lifestyle/2023/02/03/095606/wisatawan-jalur-drama-thailand-semakin-banyak-thai-pop-culture-bakal-saingi-korean-wave

Rahmanda, A. (2026, June 8). Di Balik Ekonomi Fandom yang Menggerakkan Kebangkitan Global T-Pop. bandwagon. Retrieved June 19, 2026, from https://www.bandwagon.asia/articles/inside-the-fandom-economy-powering-t-pop-s-global-rise/Indonesian

Thai Pop (T-Pop). (2022, June 29). Gig Life Pro. Retrieved June 20, 2026, from https://giglifepro.com/articles/thai-pop-t-pop

What is T-POP? Exploring the Thai Music Wave Going Global. (n.d.). UOB LIVE. Retrieved June 19, 2026, from https://uoblive.asia/blog/what-is-t-pop

Posting Komentar

0 Komentar