Sumber gambar: Unsplash (Filip Kominik)
Penulis : Mutiara Januar
Penyunting: Aisya Kamila Aziza
Ada hal yang lebih mengerikan dibanding kematian, yakni tidak memiliki tempat untuk hidup. Sejak manusia ada, kita berkompetisi dengan hewan lain untuk bertahan dan akhirnya berkompetisi antar manusia. Yang kuatlah yang menang, begitulah power atau kekuatan menjadi satu-satunya hal yang kita dambakan untuk tetap bertahan. Kita berlomba-lomba mendapatkan kekuatan dari segala aspek yang kita kuasai, tidak peduli apakah kita ahli di bidang ini atau bidang itu, tidak ahli dalam bidang apa pun tapi banyak dikenal orang saja sudah memberikan kita kekuatan untuk bertahan. Popularitas namanya. Lalu, kita berlomba-lomba untuk menjadi populer karena membayangkan betapa mudahnya hidup jika semua orang telah mengenal kita? Makan saja bukannya membayar, kita justru dibayar. Kompetisi mengetat, standar kini sudah berada di langit. Rupawan saja tidak cukup, perempuan harus berbulu mata lebat dan laki-laki harus tinggi menjulang untuk mencapai titik nol. Nantinya, kalau sudah sampai nol, keotentikan yang dinilai akan membuka perlombaan manusia paling otentik satu dunia.
Menyeramkan bukan? Dulu, kita masih dituntun oleh tangan ibu, di usia 20, tiba-tiba kita dilepas di pinggir jurang. Dihantam fakta bahwa dunia sekeras dan tidak sepengampun itu. Sekali kita tidak menunjukkan cemerlangnya diri kita, nilai jual diri kita merosot jatuh ke bawah. Tidak ada panggilan part time, tidak ada panggilan magang, tidak ada panggilan proyek, tidak ada panggilan kerja. KIta jatuh menjadi manusia yang tidak berkualitas. Di usia 20, ketika baru membuka mata terhadap dunia, kita langsung dihadapkan pada pilihan sulit: realistis atau idealis. Menjadi realistis mungkin membunuh mimpi kekanakan yang menghidupi jiwa dan membuat mata kita bersinar berseri-seri, sementara menjadi idealis artinya mengabaikan kenyataan yang ada dan mempertaruhkan diri untuk kecewa ketika kita pada akhirnya tidak menggapai apa-apa. Di tengah-tengah sulitnya kehidupan kita, hati kita terus-menerus mencari sebuah tempat. Tempat yang ditakdirkan untuk kita datangi dan hidupi; the place where we belong. Sebuah tempat yang membuat tubuh kita berhenti memberi sinyal salah, tempat yang membuat kita merasa bahwa di sinilah kita seharusnya berada. Namun, bagaimana cara menemukan tempat itu ketika untuk mencapai nol saja kita tidak mampu? Bagaimana cara kita menunjukkan kualitas diri jika mereka hanya mau menilai dari nol? Kesempatan saja tidak punya, bagaimana mau menang?
Mudah sekali untuk merasa kecil akhir-akhir ini. Cita-cita pun rasanya semakin buram saking jauhnya. Pilihannya hanya terus menjadi kuat atau menyerah dan digerus orang lain yang lebih kuat. Tetapi, demi Tuhan, tidakkah rasanya melelahkan untuk hidup terus beradu badan?

0 Komentar