Penulis : Aisyah Nabilah Putri
Penyunting: Naura Syahima Bisyri
Penafian!
Tulisan di bawah ini murni berupa sudut pandang saya sebagai penikmat musik awam. Mohon maaf jika ada kekeliruan dalam menafsirkan makna lagu.
Identitas Lagu
Judul lagu: Pantai Utara
Penulis karya puisi: Isma Sawitri
Dilagukan oleh: Rangga Eka Prasetya
Ulasan
Baru-baru ini, Sasina merilis single baru mereka di Spotify bertajuk Pantai Utara. Berbeda dari band-band pada umumnya, lagu-lagu yang dirilis oleh Sasina ini berasal dari karya puisi yang diaransemen membentuk musikalisasi, sebuah genre yang menggabungkan antara musik dan sastra—khususnya puisi.
Lirik yang diciptakan oleh Isma Sawitri (1987) ini menceritakan tentang sejarah keadaan maritim di Indonesia dari waktu ke waktu dan disajikan dengan filosofis. Untuk lebih memahami makna dari lagu tersebut lebih jauh, mari kita bedah satu persatu.
Lagu dibuka dengan menampilkan lirik, “Luruskan pandang ke dataran tandus, Ke petak-petak garam, Ke laut lepas, layar putih-putih, Perahu-perahu bebas” seolah merepresentasikan keadaan masyarakat tepi laut Pulau Jawa yang memang memiliki dataran tandus yang cocok untuk membuat tambak garam. Di sisi lain, diksi perahu merepresentasikan nelayan yang dengan bebas melakukan pekerjaannya.
Pada bait kedua, lirik dilanjutkan dengan “Oh Laut Jawa, di belakang desa-desa sengsara, Di belakang kejatuhan dan kebangkitan bangsa”. Laut Jawa di sini menjadi representasi dari perdagangan, penjajahan, hingga perang yang banyak berlangsung melalui jalur laut yang cenderung merugikan mereka. Hal ini sejalan dengan sejarah Belanda yang datang ke Indonesia melalui jalur laut dan tiba di Pelabuhan Banten. Lirik tersebut juga menunjukkan adanya kritik sosial bahwa meskipun bangsa kita memiliki maritim terkuat sekalipun, belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pesisir.
Lirik Laut adalah kita merupakan inti dari lagu ini, ditandai dengan banyaknya repetisi terhadap lirik tersebut. Lirik ini menggambarkan jati diri bangsa kita, bahwa laut sarat akan berjuta memori kolektif bangsa dari sejak dahulu kala dan mengingatkan bahwa kekayaan laut sering dikuasai segelintir pihak sehingga tidak selalu membawa kesejahteraan bagi semua.
Perahu-perahu berkuasa, Dari Arafura, Selat Sunda, Selat Malaka, (Demikian sejarah bangsa, dalam masa jaya), (Demikian sejarah bangsa, dalam masa jaya).
Sejujurnya, saat saya mencoba untuk memahami dan menafsirkan penggalan di atas, saya merasa adanya kontradiksi antara kalimat di awal dan di akhir. Karena menurut saya, perahu-perahu sendiri diasosiasikan sebagai nelayan, bukan penguasa. Jadi, apakah saat itu memang penguasanya adalah nelayan? Jika demikian, hal tersebut juga berkontradiksi dengan lirik “desa-desa sengsara”. Atau memang memiliki arti lain? Misalnya, seperti armada maritim yang perlahan dibentuk dari “bawah”.
Lirik Sebelum cengkeh dan pala, Sesudah minyak dan baja, Dari Arafura, Selat Sunda, Selat Malaka jika dikaitkan dengan lirik sebelumnya—Laut adalah kita—menunjukkan adanya perjalanan waktu sekaligus menjadi penanda bahwa setiap masa memiliki kebutuhan komoditas yang berbeda, tetapi tetap memperebutkan laut sebagai sumber daya yang paling kuat.
Perahu-perahu begitu manis, Kapal-kapal lebih perkasa. Lirik ini menggambarkan bagaimana kapal-kapal modern telah “menggeser kedudukan” perahu tradisional di laut.
Lirik luruskan pandang ke laut yang merdeka (lautan yang merdeka) (3x) yang menjadi penutup merefleksikan harapan yang begitu besar bahwa laut seharusnya “merdeka” dari monopoli, eksploitasi, dan ketimpangan.
Sayangnya, dalam versi dilagukan ada sepenggal lirik yang tidak diikutsertakan, yakni setelah lirik “demikian sejarah bangsa dan masa jaya” seharusnya terdapat penggalan lirik “sebelum Sultan Agung dan monopoli kapal dagang bersenjata”. Hal ini sempat membuat saya kebingungan dalam memaknai keseluruhan isi lagu. Maka dari itu, saya hanya memahami sebatas pada yang sudah dilagukan saja. Namun, apabila sepenggal lirik tersebut dimasukkan, menambah kritik sosial tentang kehidupan masyarakat pesisir yang ternyata sejak sebelum zaman kolonial pun sudah mengalami ketimpangan.
Jika tadi kita sudah membedah satu per satu liriknya yang ternyata cukup ‘ngejelimet’, sekarang kita beralih ke musiknya. Dari segi harmonisasi, lagu ini menghadirkan bentuk repetitif sehingga membuat para pendengar dapat dengan jelas memahami tiap liriknya. Selain itu, melodi dan aransemen yang ditonjolkan lagu ini cenderung lembut. Latar suara yang tidak terlalu berlebihan membuat lagu ini menjadi easy-listening di telinga pendengar dan terkesan cocok dengan tema yang dibawakan.
Hal yang membuat saya ‘betah’ mendengarkan adalah karakter vokal tiap penyanyi yang membentuk pembagian suara berbeda sehingga tidak merusak aransemen. Sebaliknya, justru terdengar natural dan hangat sehingga menempel di benak saya. Ditambah lagi, artikulasi yang jelas membuat setiap lirik dapat terdengar dengan baik Secara keseluruhan, aransemen, harmonisasi dan vokalisasi dalam Pantai Utara saling melengkapi dalam membangun pengalaman mendengarkan yang puitis sekaligus menyentuh.
Secara umum, lagu baru Sasina ini sangat direkomendasikan untuk #WarGaung yang sedang ingin mendengarkan lagu dengan tempo lembut dan mudah diterima oleh telinga, yang sedang santai, maupun yang sedang mumet karena tugas menumpuk.
Referensi:
Ardiansyah, R. (2016, October 20). Sejarah Penjajahan Belanda di Indonesia (1596 – 1942) dan Kebijakan – Kebijakannya – Idsejarah. Idsejarah. Retrieved June 29, 2026, from http://idsejarah.net/2016/10/sejarah-penjajahan-belanda-di-indonesia.html
Shintya. (2013, Februari 25). Musikalisasi Puisi. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. https://balaibahasajateng.kemendikdasmen.go.id/2013/02/musikalisasi-puisi/
Tambunan, R. B., Hariyadi, & Santoso, A. (2012). Evaluasi Kesesuaian Tambak Garam Ditinjau Dari Aspek Fisik Di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Journal of Marine Research, 1(2), 186.

0 Komentar