Penulis : Mutiara Januar
Penyunting: Selese Putriani Munawarah
Jakarta, 7 Agustus 2026 — Sebelum pertunjukan Nadirah resmi dipentaskan pada 8 Agustus 2026, Teater Salihara menghadirkan preview media untuk pertunjukan tersebut. Nadirah merupakan lakon karya Alfian Sa’at, penulis naskah asal Singapura, yang mengisahkan seorang mahasiswi muslim peranakan Tionghoa yang aktif mempromosikan dialog antaragama, namun menghadapi dilema ketika ibunya yang mualaf memutuskan menikah dengan pria nonmuslim. Lakon ini disutradarai oleh Iediel Dzuhrie Alaudin dari Malaysia dan dimainkan oleh para pemain teater alumni Kelas Akting Salihara yang tergabung dalam kelompok AKSARA.
Nadirah sebelumnya telah dipentaskan di Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo, sebelum untuk pertama kalinya hadir di Jakarta dalam rangkaian SIPFest atau Salihara International Performing-Arts Festival, program dua tahunan Salihara yang menampilkan karya seni pertunjukan terbaik, menarik, dan berkelas. Pada SIPFest kali ini, Salihara menampilkan seniman-seniman dari Asia, baik yang berdomisili dan berkarya di Asia maupun seniman diaspora Asia.
Nadirah, seperti sinopsisnya, menceritakan tentang seorang mahasiswi muslim peranakan Tionghoa yang menghadapi dilema ketika ibunya memilih untuk menikahi lelaki nonmuslim. Karya ini dipilih karena kuat hubungannya dengan budaya Indonesia yang masih bergelut dengan isu agama, terutama mengenai hubungan antaragama.
Sinopsis Nadirah
Pertunjukan dimulai sekitar pukul 18.30 WIB di Black Box Salihara yang dimulai dengan Nadirah dan Ibunya, Sahira, yang bersembahyang di tengah latar sebagai bentuk pengenalan bahwa Nadirah berasal dari keluarga muslim yang taat. Latar kemudian berganti menjadi ruang perkuliahan dimana Nadirah dan Faruq berdialog mengenai pertemuan antaragama yang mereka inisiasi yang akan datang. Mereka membicarakan tentang perizinan dakwah di lingkungan kampus yang akan menjadi topik pembahasan di pertemuan mereka nantinya. Lalu Maznah, teman baik Nadirah, datang. Ia adalah karakter yang berpenampilan terbuka meski seorang muslimah, sebuah kontras dari karakter Nadirah yang berpenampilan tertutup dan berjilbab.
Pemunculan konflik dimulai ketika Sahira dekat dengan Robert, seorang dokter beragama Kristen. Hubungan ini awalnya tidak ditentang Nadirah. Ia justru merasa senang ibunya memiliki kekasih bahkan sudah berandai-andai ia akan berganti nama belakang namun konflik mulai memuncak ketika Sahira dan Robert memutuskan agar pernikahan mereka dilakukan di pencatatan sipil saja alih-alih di ruang agama sejak mereka berdua sama-sama merasa sebuah tindakan yang amat sangat disayangkan oleh semua muslim karena menurut agama islam, jika seorang perempuan muslim menikahi laki-laki nonmuslim pernikahannya dianggap tidak sah secara agama dan dianggap melakukan perzinahan. Nadirah yang sangat religius menentang keras keputusan ibunya tersebut yang membuat hubungannya dengannya menjadi menjauh.
Konflik semakin memuncak ketika Nadirah secara tersirat menyampaikan bahwa ia tidak lagi merasa ibunya adalah keluarganya, dan ingin pergi tinggal bersama bapaknya di Kuala Lumpur selama sebulan. Ia menyebut bahwa rumahnya tidak memiliki cukup ruang untuknya jika Robert masuk ke dalam rumah itu. Sambil marah, Nadirah berkata, “Tidak ada cukup ruang untuk Tuhan yang lain!” yang dibalas ibunya dengan pelan, “Apa tidak mungkin itu Tuhan yang sama?”
Konflik diselesaikan dengan Nadirah yang perlahan-lahan memahami dan menerima bahwa ibunya juga seorang manusia yang berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi seorang ibu sekaligus manusia yang beragama. Pementasan ini ditutup dengan Nadirah yang mulai menerima Robert sebagai ayah tirinya.
Lakon Nadirah pada SIPFest 2026
Lakon Nadirah banyak membahas soal agama dan kepercayaan, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi cara kita menilai situasi. Agama yang semestinya menjadi jalan untuk mengenal Tuhan Yang Maha Esa, kadang justru membuat kita luput memandang manusia sebagai manusia. Selain kaya dari segi cerita, lakon Nadirah juga layak diapresiasi dari pementasannya sebagai satu kesatuan, mulai dari tata musik dengan ambience yang turut mendramatisasi adegan, latar visual yang cukup mencerminkan suasana adegan yang modern dan santai, hingga tata busana yang bermain warna kontras pada beberapa adegan, sehingga menambah nilai pementasan ini menjadi pementasan yang bergengsi. Yah, hal yang memang dapat diharapkan dari Salihara.
Setelah pementasan selesai, Salihara membuka bincang karya bersama penulis, sutradara, dan para pemain. Diskusi ini membahas hal-hal di balik pementasan, mulai dari proses kreatif, cerita-cerita para pemain dalam mendalami perannya, hingga elemen-elemen pertunjukan. Komparasi antara pementasan ini dengan pementasan sebelumnya di Singapura, 10 tahun lalu, juga turut disorot. Alfian Sa’at, sang penulis naskah, merasa situasi yang terjadi saat itu hingga hari ini tidak banyak berubah. Pernikahan beda agama masih belum dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat muslim. Ia juga menyebutkan bahwa dalam proses penerjemahan Nadirah ke Indonesia, ia mendapatkan banyak informasi mengenai budaya Indonesia yang justru memperkaya naskah pementasan Nadirah versi Indonesia ini.

.png)
.png)

0 Komentar