Merayakan Karya Anak Dunia dalam Pameran Global Children’s Literacy and Art 2026 di Perpusnas

Sumber gambar: Tim Redaksi Media Gaung


Penulis   : Maulida Diva Karamah

Penyunting: Selese Putriani

Jakarta, 6 September 2026 – Global Children’s Literacy and Art Initiative (GCLA) 2026 resmi menggelar pameran seni visual dan karya tulis dari sejumlah negara di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Jakarta. Pameran tersebut kemudian menjadi ruang apresiasi bagi berbagai berbagai karya anak sekaligus mempertemukan seni dan literasi dalam satu panggung.

Pameran ini menghadirkan karya anak dalam bentuk puisi, cerita pendek, ilustrasi, serta lukisan. Ira Diana, pendiri Nalexa Birru Nusantara sekaligus salah satu pihak yang memberikan sambutan dalam pembukaan GCLA 2026 mengatakan bahwa karya yang terkumpul berasal dari anak-anak Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, India, dan Palestina. Dari 432 karya yang terkumpul, sebanyak 42 karya terpilih serta tiga karya khusus dari anak Palestina dipamerkan kepada publik.



Pameran Global Children’s Literacy and Art 2026 di lantai 4, Perpusnas.

Sejak pukul 08.30 WIB, area acara pembukaan pameran telah dipenuhi pengunjung. Para orang tua tampak berbincang sembari menunggu acara dimulai, sementara keluarga dan orang-orang terdekat para peserta turut hadir untuk memberikan dukungan. Kehadiran mereka membuat suasana pembukaan pameran terasa hangat, seolah menjadi ruang perayaan atas keberanian dan proses para peserta dalam berkarya.

Suasana semakin hidup ketika pengunjung mulai memenuhi ruang pameran dan mengamati satu per satu karya yang terpajang di lantai 4 Perpusnas. Warna-warna cerah pada lukisan berpadu dengan goresan tinta dan kuas di atas kertas maupun kanvas, tampak menonjol di antara latar papan berwarna hitam. Beragam bentuk dan gaya dalam karya-karya tersebut menunjukkan karakter khas anak yang kaya akan imajinasi. Lebih dari sekadar objek pameran, karya-karya yang dipajang memperlihatkan bagaimana cara anak-anak memandang dan memaknai dunia melalui gambar maupun tulisan. Keberagaman ekspresi tersebut turut membangun suasana tersendiri di ruang pameran sekaligus memperlihatkan kebebasan peserta dalam mengekspresikan ide melalui karya.

Dari Wadah Karya Menjadi Ruang Apresiasi

Pemberian apresiasi kepada peserta GCLA 2026

Ira Diana, dalam sambutannya, menjelaskan bahwa inisiatif ini berangkat dari keinginan untuk menghadirkan kegiatan berskala internasional yang secara khusus memberi ruang bagi karya anak-anak dari berbagai negara. Menurutnya, belum banyak kegiatan serupa yang diselenggarakan di Indonesia dan secara khusus berfokus pada karya anak. Selama ini, kegiatan literasi anak lebih sering berkaitan dengan buku dan bacaan. Melalui GCLA, ruang tersebut diperluas dengan menghadirkan karya anak dalam bentuk lukisan, puisi, dan cerita pendek.

Pada awalnya, pihak penyelenggara hanya berencana mengumpulkan dan menampilkan karya anak yang masuk melalui situs mereka. Namun, pertanyaan dari para peserta mengenai ada atau tidaknya pemenang membuat konsep kegiatan pun akhirnya dikembangkan. Penyelenggara kemudian melibatkan sejumlah akademisi untuk menjadi juri secara profesional. Hasilnya, para peserta terpilih tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk memamerkan karya, tetapi juga memperoleh apresiasi berupa medali dan bingkisan.

GCLA 2026 juga tidak berhenti pada pameran. Sekitar 22 narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, seniman, budayawan, dan pegiat bidang terkait turut dihadirkan dalam berbagai sesi. Kegiatan tersebut mencakup pembahasan mengenai seni dan pengasuhan hingga lokakarya menggambar. Dengan demikian, para peserta tidak hanya hadir untuk memamerkan dan melihat pameran karya seni dari anak-anak saja, tetapi juga memiliki ruang untuk terus belajar dan mengembangkan kreativitas mereka.

Literasi dan Seni Menjadi Bagian dari Kebudayaan

Sambutan oleh Dr. Ir. Feri Arlius, M.Sc.,


Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Kementerian Kebudayaan yang diwakili oleh Dr. Ir. Feri Arlius, M.Sc., Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan. Dalam sambutannya, ia mengaitkan kegiatan tersebut dengan amanat Pasal 32 UUD 1945 mengenai kebudayaan. Negara, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia sekaligus menjamin masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, GCLA 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana karya anak Indonesia dapat diperkenalkan dalam ruang yang mempertemukan Indonesia dengan dunia. Kehadiran karya dari sejumlah negara sekaligus membuka ruang bagi anak-anak Indonesia untuk tampil dalam panggung global.

Selain itu, Feri Arlius juga menekankan bahwa literasi dan seni tidak berdiri sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengenal dunia, memahami diri, menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan belajar menghargai keberagaman. Setiap karya yang dipamerkan membawa pengalaman, imajinasi, harapan, serta cara anak-anak memandang dunia.

Keterampilan kreatif tersebut juga memiliki relevansi dengan masa depan ekonomi. Menurut Feri, dalam beberapa tahun mendatang kreativitas dan kebudayaan diperkirakan akan semakin memiliki peran penting dalam perekonomian melalui perkembangan ekonomi kreatif. Karena itu, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga nilai-nilai yang diwariskan, tetapi juga dapat membuka ruang pemanfaatan budaya yang memiliki nilai ekonomi.

Dari sini, karya anak dapat dipandang lebih dari sekadar hasil aktivitas seni. Ketika anak dibiasakan membaca dan berkarya, misalnya, mereka sedang membangun kemampuan kreatif yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi perubahan di masa depan. Karena itu, Feri menyampaikan dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap keberlanjutan GCLA dan harapan agar kegiatan serupa dapat melibatkan lebih banyak anak dari Indonesia maupun negara lain pada tahun-tahun mendatang.

Merayakan Karya, Menumbuhkan Literasi

Karya-karya peserta GCLA 2026 (1)

Karya-karya peserta GCLA 2026 (2)

Dukungan serupa datang dari Perpusnas melalui sambutan yang disampaikan oleh Atis Taufik Abdul Rahman, S.I.Pust., M.M. Menurutnya, kemampuan anak untuk mengenali diri, memahami lingkungan, mengembangkan gagasan, dan melihat dunia secara kreatif membutuhkan ruang untuk berekspresi. Tulisan, gambar, maupun bentuk seni lainnya dapat menjadi sarana bagi anak untuk membangun imajinasi, kepercayaan diri, dan kepedulian terhadap sesama.

Penyelenggaraan GCLA 2026 juga memiliki keterkaitan dengan dua momentum literasi pada September ini, yaitu sebagai bagian dari peringatan Hari Aksara Internasional ke-60, sekaligus rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan. Momentum tersebut sejalan dengan komitmen Perpusnas untuk menghadirkan layanan dan program yang mendekatkan literasi kepada anak sejak usia dini.

Karena itu, masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan berbagai kegiatan literasi yang berlangsung sepanjang September. Membangun budaya baca dan kecakapan literasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Pembukaan GCLA 2026 kemudian dilanjutkan dengan penyerahan medali kepada para pemenang. Momen tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi dari pihak penyelenggara terhadap anak-anak yang karyanya telah dinilai baik oleh para juri. Pada akhirnya, pameran ini memperlihatkan bahwa di ruang yang sama, anak-anak dapat membawa cerita, imajinasi, pertanyaan, dan gagasan mereka untuk dilihat serta dihargai oleh orang lain.

Menempatkan karya anak dalam ruang yang lebih luas berarti membuka kesempatan bagi mereka untuk tidak hanya menikmati, tetapi juga menciptakan. Ruang untuk membaca, menulis, menggambar, dan berkarya memberi anak kesempatan untuk menyampaikan gagasan sekaligus mengenal diri dan lingkungan di sekitarnya. Di titik inilah literasi dan seni dapat berjalan beriringan, mendorong anak untuk tidak hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga belajar merasakan, membayangkan, dan menciptakan.

GCLA 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pameran. Lebih dari itu, kegiatan ini dapat berkembang menjadi jejaring yang mempertemukan anak-anak, keluarga, pendidik, seniman, akademisi, dan pegiat literasi dari berbagai latar. Sebab, ketika karya anak diberi ruang untuk hadir dan diapresiasi, yang sedang dibangun bukan hanya sebuah pameran, melainkan bagian dari ekosistem literasi, seni, dan kebudayaan untuk masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar