Mengapa Orang-orang Culas Bebas Menindas Orang Cerdas, Bu?

Cerpen: Mengapa Orang-orang Culas Bebas Menindas Orang Cerdas, Bu?

Sumber gambar: Unsplash (Erdoardo Bortoli)


Penulis   : Amira Leananda


Suatu waktu, ibuku pernah menuturkan sepenggal cerita. Sejak masih balita, aku memang selalu senang mendengar Ibu bercerita. Sampai aku beranjak remaja, masih suka aku mendengarnya. Sepanjang apa pun Ibu berbicara, aku bersedia memasang telinga. Suara Ibu yang nyaris selembut sutra membuat tidurku jadi lebih nyenyak setiap malamnya.

Ibu sudah seperti separuh jiwaku. Aku sangat dekat dengannya, bahkan aku seperti dapat melihat versi diriku yang lain di dalam diri Ibu. Sudah ribuan kali pula aku mendengar orang lain menyebut kami seperti kembar karena paras dan postur tubuh yang bagai pinang dibelah dua. Mungkin ketika dewasa nanti, aku akan semakin banyak mewarisi genetiknya.

Separuh jiwaku yang telah diisi Ibu begitu kontras dengan separuh sisanya yang kosong melompong. Rumpang, tak lengkap. Berbeda dengan Ibu yang telah kukenal luar dalam, aku tak pernah mengenal Bapak. Siapa ia, apa perannya dalam hidupku, bagaimana sosok dan sifatnya, aku tidak tahu-menahu. Pahatan wajahnya saja aku tak ingat. Aku juga tak pernah menyinggung tentang eksistensi Bapak kepada Ibu dan Kakak meski miliaran kalimat tanya selalu menghantui benakku setiap waktu.

Malam itu, Ibu bilang bahwa cerita yang akan diutarakannya kali ini berbeda. Bukan dongeng seperti biasanya, melainkan kisah nyata. Malam itu juga, akhirnya aku tahu yang sebenarnya. Ibu bukan hanya bercerita, melainkan menguak sebuah rahasia.

Kata Ibu, dulu Bapak “dijemput” ke sebuah tempat saat usiaku masih dua tahun. Tempat yang rapat. Dihalangi jeruji besi yang kuat. Setelahnya, Bapak tak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Ia tak pernah pulang. Tak pernah pula tersiar kabarnya. Mungkin itulah mengapa aku sama sekali tak bisa mengingat seperti apa sosoknya. Kata Ibu, pada hari saat Bapak dibawa pergi, aku sedang asyik bermain bersama kakakku di kamar. Tanpa tahu bahwa di depan rumah, sekujur tubuh orang tua kami bergetar. Banyak tetangga kami yang menuding keduanya dengan tatapan menghakimi meski tak ada sepatah kata yang terlontar.

Betapa nestapa hatiku begitu Ibu sampai di akhir kata. Ribuan tanya serentak berbondong-bondong menyerang kepalaku tanpa jeda.

“Kenapa Bapak ditangkap, Bu? Bapak salah apa?” tanyaku. “Apa Bapak mencuri? Menyakiti orang lain?”

Ibu menggeleng. “Tidak, Nak.”

“Lalu kenapa, Bu?”

Ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia diam, mulutnya bungkam, seperti menimbang-nimbang jawaban yang paling tepat, padahal ia bukan peserta cerdas cermat.

“Bapak ditangkap karena Bapak cerdas,” kata Ibu. “Di negeri ini, Nak, kita tak bisa leluasa bergerak, apalagi bersuara. Mereka benci dengan orang yang bersuara lantang.”

Dahiku sontak mengerut, bingung. Kalimat Ibu berdengung-dengung. Membuatku linglung. Mengantarkanku pada rentetan pertanyaan yang tak berujung.

Lantas mengapa Bapak cerdas, tapi nasibnya tidak beruntung? Lantas mengapa mereka merasa terancam karena Bapak bersuara lantang? Bukankah suara yang lantang tak selalu berarti menantang? Atau apakah mereka menganggap Bapak telah bersikap lancang?

Lantas untuk apa aku diharuskan menimba ilmu sekurang-kurangnya hingga kelas duabelas? Untuk apa Kakakku bersusah payah masuk universitas? Untuk apa Ibuku banting tulang mencari uang demi sekotak beras agar anak-anaknya tidak lemas? Untuk apa semua itu, jika untuk bergerak saja kami tidak bisa bebas? Sampai kapan kami harus tunduk pada batas-batas yang tak waras? Sampai sekujur tubuh kami kebas? Atau sampai sapi berubah jadi hewan buas?

Berbeda dengan sebelumnya, sejak malam itu tidurku jadi tidak pernah senyenyak biasanya. Cerita itu selalu terbayang-bayang dalam benakku seenaknya, membiarkanku tenggelam dalam arus masa kecilku yang kelam. Selama ini kukira Bapak terasa begitu jauh. Tak tersentuh. Tak pernah kusangka jika ternyata Bapak selalu ada. Jejak dan dedikasinya selamanya membekas di dalam jiwa. Meski hingga kini aku belum pernah melihat lagi raganya di depan mata, sejatinya Bapak tak pernah ke mana-mana.


Posting Komentar

0 Komentar