"Nama Terakhir" dalam Panggung Makarya #14 Hadirkan Pembacaan Baru atas Perempuan Perkasa di Nusantara


Pertunjukan Nama Terakhir (Sumber foto: Dokumentasi oleh Media Gaung)


Penulis   : Zhafira Salsabila

Penyunting: Selese Putriani Munawarah


Pertunjukan Nama Terakhir (Sumber foto: Dokumentasi oleh Media Gaung)


Jakarta, 29 Mei 2026 — IU Laboratory kembali menghadirkan pertunjukan melalui Panggung Makarya #14 bertajuk Nama Terakhir. Nama Terakhir merupakan pertunjukan monolog interaktif yang diselenggarakan di Ruang Tamu Makarya, Gramedia Matraman Lt. 1, pada Jumat (29/5/26). Pertunjukan yang dialihwahanakan dari buku Perempuan-perempuan Perkasa karya Peter Carey dan Vincent Houben ini mengangkat figur-figur perempuan Nusantara melalui pendekatan artistik yang reflektif dan partisipatif. 

Disutradarai oleh Sergius D.A., Nama Terakhir menghadirkan lima sosok perempuan dengan latar sejarah, mitologi, dan budaya yang berbeda, yakni Durga, R.A. Kartini, Nyi Ageng Serang, Nyi Roro Kidul, dan Maduretno. Kehadiran figur-figur perempuan perkasa yang dilakoni oleh Mutiara Imma menjadi representasi perjalanan seorang perempuan dalam mencari "nama" bagi dirinya sendiri. Melalui monolog dan interaksi langsung dengan penonton, pertunjukan ini berupaya menampilkan perempuan sebagai sosok multidimensional yang tidak dapat dipersempit ke dalam satu definisi semata.

Pertunjukan dibuka pada pukul 19.15 WIB dalam suasana gelap ketika lampu ruangan dipadamkan. Sosok pertama yang hadir adalah Durga, figur perempuan yang digambarkan sakti mandraguna dan mampu memberantas rintangan, tetapi tetap memiliki sisi keibuan yang tampak dari adanya kelahiran setelah kehancuran yang dibuatnya. Penonton pun turut dilibatkan melalui pemberian gelang kaki kepada pelakon sebagai simbol keterhubungan antara tokoh dan audiens.


Monolog interaktif Nama Terakhir (Sumber foto: Dokumentasi oleh Media Gaung)


Sosok berikutnya, R.A. Kartini, dihadirkan sebagai perempuan yang berani menyuarakan keinginannya dan menjadi pelopor kebebasan berpikir. Penonton memberikan surat-surat Kartini kepada pelakon sebagai bagian dari elemen interaksi pertunjukan. Narasi yang dibangun menegaskan bahwa keberdayaan perempuan tidak dapat direduksi menjadi romantisasi kolonial ataupun gambaran erotik perempuan Timur yang dibentuk melalui sudut pandang lelaki Eropa.

Pertunjukan kemudian menghadirkan sosok Nyi Ageng Serang sebagai penasihat dan ahli strategi perang yang ditakuti Belanda karena kecerdikan taktiknya. Sosok ini juga ditampilkan melalui sisi personalnya sebagai perempuan yang harus menyaksikan kehilangan anggota keluarganya di tengah perjuangan. Sementara itu, Nyi Roro Kidul dihadirkan bukan sekadar sebagai simbol mistik dan alat legitimasi kekuasaan, melainkan sebagai figur penjaga laut dan alam. Nama Terakhir mencoba menghadirkan pembacaan ulang terhadap tokoh tersebut yang makna dirinya perlahan bergeser akibat mitos dan kepentingan yang terus dilekatkan padanya.

Kisah Maduretno bersama Raden Ronggo menjadi bagian penutup yang menampilkan dimensi cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Sosok Maduretno digambarkan melalui cinta yang mendalam hingga akhirnya meninggal saat persalinan. Pertunjukan ini menegaskan bahwa cinta tidak hanya hadir dalam relasi antarindividu, tetapi juga dalam bentuk-bentuk lain.

Suasana makin emosional ketika lagu "Sabda Alam" yang dinyanyikan oleh Nonaria mengalun, diiringi riuh tepuk tangan penonton sebagai tanda berakhirnya pertunjukan. Pada akhir pertunjukan, pelakon menegaskan bahwa perempuan tidak pernah cukup dijelaskan melalui satu identitas saja karena perempuan memiliki dimensi, pengalaman, dan perasaan yang sangat kompleks.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama sutradara, pelakon, dan tim produksi. Diskusi tersebut membahas proses kreatif dalam membangun karakter melalui riset, penyesuaian elemen artistik, serta upaya menghadirkan representasi figur-figur perempuan perkasa secara utuh. Tim produksi juga menyoroti pentingnya menghadirkan perspektif perempuan dalam proses kreatif. Meski tim produksi didominasi laki-laki, pelakon menegaskan bahwa ruang diskusi yang terbuka membuatnya tidak merasa direduksi menjadi objek male gaze. Melalui pertunjukan ini, IU Laboratory berharap dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi perempuan dalam proses produksi seni ke depannya.


Sesi Diskusi Pertunjukan Nama Terakhir (Sumber foto: Dokumentasi oleh Media Gaung)

Melalui Nama Terakhir, Panggung Makarya #14 tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga medium refleksi mengenai sejarah, budaya, dan posisi perempuan dalam masyarakat. Pertunjukan ini sekaligus mengajak publik untuk terus bergerak dan mempertanyakan kembali sejarah perempuan yang selama ini kerap direduksi.

Posting Komentar

0 Komentar