Sumber gambar: Unsplash (Luwaldin Bosman)
Penulis : Mutiara Januar
Kegemaran saya untuk mengobrol dengan banyak orang membuat saya bertemu orang-orang dari latar belakang dengan sifat yang berbeda-beda. Semakin banyak mengobrol, semakin saya merasa bahwa dunia ini secara default memang tidak aman untuk perempuan. Saya mendapatkan kesimpulan ini ketika saya mengobrol dengan teman lama saya, sebut saja dia Q. Q adalah seorang laki-laki berusia 24 tahun yang bekerja di sektor keamanan. Pekerjaan itu otomatis membuatnya bertemu dengan bermacam-macam laki-laki yang berusia lebih tua darinya (mengingat sektor keamanan tidak terlalu diminati oleh lelaki muda).
Beberapa waktu ini, ia bercerita mengenai keluh kesahnya, salah satunya adalah mengenai teman perempuannya yang menjanda di usia 21 tahun. Temannya menceritakan tentang perceraiannya padanya yang, menurut saya pribadi, berarti ia percaya pada Q dan mungkin juga ingin meminta tempat bernaung sementara. Q menceritakan hal tersebut pada rekan kerjanya dan mendapat respons yang membuat saya tidak habis pikir. Rekan kerja Q berpendapat bahwa teman perempuannya yang menjanda tersebut menghubunginya karena ia kesepian dan Q bisa memakai perempuan tersebut. Memakai dalam artian ini adalah menggunakan tubuhnya untuk kesenangan semata, seolah tubuh perempuan tidak lebih dari barang atau objek yang bisa digunakan sesuka hati.
Saya sangat geram mendengar hal tersebut, tetapi Q buru-buru mengklarifikasi bahwa rekan kerjanya hanya bercanda. Rekan kerjanya yang lain pun menasehatinya dengan lebih bijaksana dan logis mengenai perempuan tersebut. Rekan kerjanya itu berpendapat bahwa keinginan perempuan tersebut hanyalah bercerita padanya. Ia juga menghimbau Q untuk tidak mengambil risiko apapun (baca: menjalin hubungan dengan perempuan tersebut) karena takut terbawa pada masalahnya atau dijadikan kambing hitam atas perceraiannya. Q lebih setuju pada rekan kerjanya yang kedua.
Namun, fakta yang terungkap dari sana membuat saya merasa sangat miris dan terpukul. Ternyata, di dunia laki-laki, terdapat pemikiran bahwa seorang perempuan–apalagi seorang janda–yang mendekati seorang lelaki (menceritakan hidupnya) berarti perempuan itu merasa kesepian. Dengan itu, laki-laki didorong untuk memanfaatkan situasi tersebut dengan memberikan mereka kenyamanan (kenyamanan melalui hubungan seksual). Pemikiran seperti itu merupakan pemikiran yang sangat keliru dan tidak manusiawi.
Bagaimana bisa ketika seorang perempuan yang membuka kerapuhan dirinya, itu secara otomatis diterjemahkan sebagai inisiatif untuk melakukan seks? Apakah perempuan tidak bisa menceritakan kisah hidupnya pada teman laki-lakinya tanpa diterjemahkan bahwa ada maksud atau intrik tertentu yang ia pendam dibalik ceritanya tersebut? Apakah perempuan tidak bisa percaya pada laki-laki?
Saya sangat menyayangkan karena ternyata ada dan nyata bahwa laki-laki bisa memilih untuk mengambil kesempatan di tengah kerentanan perempuan untuk memenuhi kepuasan seksual. Kenyataan bahwa laki-laki memiliki opsi untuk memanfaatkan perempuan di kondisinya yang paling rentan menunjukkan bahwa mereka punya untuk melakukan itu.
Di cerita lain, W, seorang perempuan muda yang baru putus dengan kekasihnya menceritakan kisah hidupnya pada laki-laki yang lebih tua darinya. Beberapa kali W mendapati lelaki tersebut secara halus menggoda dan mencoba mengajak W berkencan dengannya. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah pemikiran bahwa ketika perempuan bercerita pada teman laki-lakinya artinya perempuan tersebut telah dengan sengaja melemparkan ‘kode’ pada laki-laki tersebut? She’s asking for it. Kucing jika diberi ikan asin pasti tidak akan menolak. Apakah pemikiran mereka menjadi semacam itu? Karena perempuan baik-baik tidak akan menghampiri laki-laki terlebih dahulu?
Selanjutnya, apabila kemalangan menghampiri perempuan karena pergaulannya dengan laki-laki itu, maka ia tidak boleh mengeluh atau meminta keadilan. Tuntutan itu muncul karena ia yang menawarkan diri terlebih dahulu, mengabaikan kemungkinan bahwa normalnya manusia bercerita hanya karena ingin saja. Terluput pula bahwa kisah yang mungkin menakutkan, memalukan, atau bahkan menghancurkan itu dibagikan karena ia mempercayai lawan bicaranya. Pada dasarnya, manusia normal mana yang mau dengan gamblangnya menceritakan kelemahan dirinya pada orang lain apabila ia tidak mempercayai orang tersebut?
Berkaca dari interaksi teman perempuan Q dan kisah W, jika respon pertama laki-laki dalam menanggapi kedua perempuan tersebut adalah dengan menganggapnya inisiatif untuk melakukan hubungan seksual, maka pasti ada yang salah dari pemikiran laki-laki itu. Saya sangat berharap hanya segelintir saja yang beranggapan seperti itu, bukan mayoritas laki-laki. Akan tetapi, jika memang pemikiran pertama laki-laki secara umum sama seperti yang di atas, itu artinya laki-laki memang diajarkan dan difasilitasi untuk menjadi seperti itu. Hal ini tentunya sangat tidak baik. Pandangan bahwa maskulinitas laki-laki ditentukan dari banyaknya perempuan yang ia tiduri adalah pandangan yang sangat keliru dan tidak manusiawi. Melalui penelitian Cosma & Gurevich (2019), didapati orang-orang yang menyebut diri sebagai man couch, mereka menyebarkan pandangan bahwa cara untuk menjadi laki-laki sejati ialah dengan ‘pergi berperang’. Dengan itu, mendapatkan seks adalah sebuah peperangan yang harus dimenangkan. Mereka juga menganggap bahwa tubuh perempuan adalah sebuah komoditi untuk mendapatkan kembali kontrol dan untuk mendemonstrasikan maskulinitas yang sebenar-benarnya.
Saya tidak ingin menyalahkan atau menggeneralisasi semua laki-laki, banyak laki-laki yang saya kenal merupakan laki-laki yang baik yang mendukung emansipasi perempuan dan turut melawan kekerasan seksual bersama. Akan tetapi, fakta bahwa di tahun 2026 ini masih ada laki-laki yang berpikiran seperti itu membuat saya jijik dan geram. Perjuangan kita untuk menghilangkan budaya pemerkosaan masih panjang dan perlu banyak usaha. Jika kamu menemukan hal-hal seperti ini di tongkronganmu, sebagai teman yang baik kamu wajib menegur mereka. Jangan diam. Jangan menganggap ini sebagai bahan candaan karena piramida paling bawah dari budaya pemerkosaan adalah menganggap sepele lelucon seksual.
Saya tidak suka memberitahu ini kepada teman-teman perempuan, tetapi mengingat bahwa ada laki-laki yang masih menormalisasi lelucon seksual dan melihat perempuan sebagai objek yang harus ‘ditundukkan’, saya berharap perempuan berhati-hati dalam memilih pergaulan dan orang yang bisa dipercaya, terutama jika itu laki-laki. Better safe than sorry. Kesalahan Memang milik pelaku, tetapi ada baiknya perempuan terus waspada dan selalu menerapkan boundaries yang kuat ketika bergaul. Kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak predator berkeliaran sampai hari ini.
Jangan takut untuk speak up jika terjadi sesuatu yang mengancam jiwa dan raga. Segera hubungi orang terdekat untuk meminta bantuan atau hubungi 110 untuk memanggil polisi, 112 untuk layanan darurat, dan (021) 3903963 untuk Komnas Perempuan dan Anak. Penting juga untuk teman-teman perempuan saling menjaga satu sama lain. Jika melihat kekerasan terjadi terhadap perempuan, segera hubungi pihak berwenang dan dampingi korban hingga situasi dirasa aman.
Referensi:
Cosma, S., & Gurevich, M. (2019). Securing sex: Embattled masculinity and the pressured pursuit of women’s bodies in men’s online sex advice. Feminism & Psychology, 30(1), 42–62. https://doi.org/10.1177/0959353519857754.

0 Komentar