Sumber gambar: Unsplash (Matthias Wagner)
Penulis : Amira Leananda
Penyunting: Maulida Diva Karamah
Sepanjang paruh pertama 2026, penggemar dunia K-pop diwarnai dengan kabar hengkangnya sejumlah idol dari grup maupun agensi yang menaungi mereka. Di antaranya, Lee Heeseung dari ENHYPEN setelah hampir enam tahun berkarya bersama enam anggota lainnya; Ji Yunseo dan Yoo Seungeon dari EVNNE setelah dua tahun menjadi bagian dari grup; Zhang Hao, Ricky, Kim Gyuvin, dan Han Yujin dari ZEROBASEONE setelah bergabung selama dua setengah tahun di dalam grup; Seo Youngeun dari Kep1er setelah empat tahun berkarya bersama enam anggota lainnya; Lee Dongwon dari KNK setelah berkarier bersama grup selama tujuh tahun; hingga Mark Lee dan Winwin dari NCT yang mengakhiri perjalanan panjang mereka setelah hampir satu dekade berkarier di bawah naungan SM Entertainment.
Bagi sebagian orang, perubahan anggota grup K-pop mungkin dipandang sebagai bagian yang wajar terjadi dalam dinamika industri hiburan. Namun, bagi penggemar yang telah mengikuti perjalanan grup selama bertahun-tahun, peristiwa tersebut bukan hanya mengubah susunan anggota, tetapi juga turut mengubah rutinitas dan kenangan yang telah mereka rangkai bersama. Keputusan idolanya untuk meninggalkan grup tak dapat dimungkiri meninggalkan luka yang membekas di hati penggemar hingga waktu yang tak dapat ditentukan. Tak sedikit penggemar yang membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Bagi sebagian penggemar lainnya, esensi sebuah grup pun terasa tidak lagi sama seperti sebelumnya. Lagu-lagu yang biasanya mereka dengarkan dengan penuh sukacita kini akan terdengar berbeda, formasi baru grup idola mereka di atas panggung akan terlihat tak biasa, serta interaksi yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian mereka perlahan akan berubah menjadi kenangan belaka. Seolah-olah ada lubang besar tak kasatmata yang mendadak tercipta di lubuk hati mereka.
Setiap idol tentu memiliki alasannya masing-masing ketika memutuskan untuk keluar dari grup ataupun agensinya. Mulai dari yang ingin meniti karier sebagai penyanyi solo, memilih untuk tidak memperpanjang kontrak, memprioritaskan kesehatan, hingga menghadapi persoalan internal maupun eksternal yang tidak selalu diketahui publik. Apa pun alasannya, keputusan sang idol pada akhirnya merupakan pilihan yang perlu dihormati. Meskipun begitu, alasan yang terdengar masuk akal pun tidak serta-merta membuat rasa kehilangan menjadi lebih mudah. Sekalipun idol yang bersangkutan tidak benar-benar menghilang dari permukaan setelah keluar dari grup dan beberapa di antaranya masih aktif di akun media sosial pribadinya, perasaan kehilangan tetap sulit dihindari. Semakin kuat keterikatan yang terbangun selama bertahun-tahun, proses menghadapi perubahan tersebut pun tentunya tidak akan sesederhana yang dibayangkan.
Dalam psikologi, pengalaman kehilangan kerap dijelaskan melalui model five stages of grief yang dikemukakan oleh psikiater Elisabeth Kübler-Ross. Lima fase tersebut terdiri atas penyangkalan (denial), kemarahan (anger), penawaran (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance). Jika dikaitkan dengan komunitas penggemar K-pop, respons mereka terhadap keluarnya anggota grup dapat berkembang menjadi lebih kompleks karena tidak hanya melibatkan pengalaman individu, tetapi juga pengalaman sebagai fandom.
Berdasarkan pola yang kerap terlihat dalam berbagai komunitas penggemar, setidaknya terdapat beberapa respons yang sering muncul. Fase pertama adalah fase shock dan patah hati. Pengumuman keluarnya anggota grup biasanya disambut rasa tidak percaya, terutama jika datang tanpa tanda-tanda sebelumnya. Pada fase ini, berbagai reaksi hadir tanpa bisa dikontrol. Kedua, penggemar memasuki fase denial. Mereka masih memiliki secercah harapan agar kabar tersebut hanyalah mimpi dan berusaha meyakini bahwa sang idol akan kembali. Fase ketiga, ketika kenyataan mulai terasa semakin sulit disangkal, kemarahan pun muncul. Sasaran kemarahan mereka sering kali ditujukan kepada agensi, terutama ketika para penggemar merasa sang idol sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil atau karena agensi tersebut memang problematik sejak awal. Dalam beberapa kasus, kemarahan tersebut kemudian diikuti oleh munculnya berbagai spekulasi dari para penggemar yang mencoba menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. Mereka kerap menyelami dan melakukan cocoklogi dari berbagai dokumentasi lama, unggahan media sosial, maupun potongan wawancara yang menghasilkan berbagai interpretasi yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.
Respons berikutnya sebagai fase keempat dapat berupa tindakan kolektif. Sebagian besar penggemar mengadakan proyek dukungan, mengirim surat terbuka, hingga membuat petisi sebagai bentuk harapan agar keputusan tersebut dapat dipertimbangkan kembali. Bagi mereka, melakukan sesuatu bersama-sama dapat menjadi cara untuk mempertahankan harapan sekaligus menunjukkan dukungan yang besar kepada idol yang mereka kagumi. Di sisi lain, tidak sedikit pula penggemar yang pada akhirnya mulai menerima keadaan dan memberikan dukungan terhadap langkah baru yang diambil idola mereka. Ada yang tetap mengikuti aktivitas grup dengan anggota yang masih bertahan, ada yang beralih mendukung karier solo sang idol, serta ada pula yang berusaha mendukung keduanya dengan adil. Perbedaan cara menyikapi situasi ini terkadang memunculkan perpecahan di dalam fandom, bahkan memicu fanwar, terutama ketika masing-masing kubu merasa memiliki cara yang paling benar dalam menunjukkan dukungan. Dalam situasi tertentu, sebagian penggemar juga dapat mulai merasa tidak nyaman ketika anggota yang telah keluar masih terus-menerus dibandingkan atau dikaitkan dengan anggota yang masih melanjutkan aktivitas di dalam grup. Fase semacam ini mungkin terasa berat untuk dihadapi karena harus mengalami pergulatan dengan orang-orang yang tadinya saling mendukung dan merangkul satu sama lain di lingkaran yang sama.
Seiring berjalannya waktu, sebagian besar penggemar biasanya mulai menemukan cara mereka sendiri untuk berdamai dengan keadaan. Sebagian lainnya mungkin masih merasa rindu dan belum sepenuhnya move on dari masa ketika grup masih utuh. Setiap penggemar memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Ikatan emosional yang dibangun selama bertahun-tahun menjadikan proses beradaptasi dari kehilangan tidak terasa seringan yang dibayangkan. Parasocial relationship dengan idola yang memunculkan kedekatan emosional dapat membuat sebagian besar penggemar merasakan kesedihan yang cukup mendalam, bahkan dapat memengaruhi motivasi dan kondisi fisik mereka untuk sementara waktu.
Pada akhirnya, penggemar tidak hanya merasa kehilangan sosok idola di atas panggung, tetapi juga rutinitas, kebersamaan, dan kenangan yang selama bertahun-tahun tumbuh mengikuti perjalanan grup tersebut. Mungkin, hal yang disayangkan bukan sekadar kepergian dan alasan yang melatarbelakanginya, melainkan juga masa-masa yang tidak akan dapat kembali lagi seperti sedia kala. Barangkali yang hilang bukan hanya sosok idolanya, tetapi juga bagian dari diri mereka yang tumbuh dan berkembang bersama grup tersebut.
Referensi:
Abraham, H. (2026, 8 Juli). WinWin, Heeseung And More: Every KPop Idol Departure In 2026. Forbes. https://www.forbes.com/sites/hannahabraham/2026/07/08/winwin-heeseung-and-more-every-kpop-idol-departure-in-2026/
Benjamin, J. (2026, 11 Maret). The 15 Most Surprising Member Exits From K-Pop Groups. Billboard. https://www.billboard.com/lists/most-shocking-member-exits-from-k-pop-groups/
IDN Times. (2017, 12 Oktober). Ini, Lho 5 Penyebab Kenapa Idol Kpop Keluar dari Grupnya. https://www.idntimes.com/hype/entertainment/ini-lho-5-penyebab-kenapa-idol-kpop-keluar-dari-grupnya-00-337j2-4ds2hv
Widuri, T. S. (2021, 29 November). 5 Stages of Grief: Kenali Fase-fase Emosi dalam Berduka. Satu Persen. https://satupersen.net/blog/5-stage-of-grief-kenali-fase-fase-emosi-dalam-berduka

0 Komentar