Sumber gambar: Tim Redaksi Media Gaung
Penulis : Luthfiyah Nur Azizah
Penyunting: Selese Putriani
Jakarta, 19 Agustus 2026 – Dalam rangka Festival Teater Jakarta Selatan 2026, Komunitas Lentera Kata berhasil mementaskan Angkara, sebuah naskah hasil saduran bebas God of Carnage karya penulis Prancis, Yasmina Reza, yang disutradarai oleh Sergius, menghadirkan kisah tentang pertemuan dua pasang orang tua yang duduk bersama untuk menggelar dialog yang seharusnya memecahkan masalah justru bertransformasi menjadi arena adu ego. Berlangsung di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, pementasan berdurasi dua jam ini menyajikan satir yang tajam dan familier dengan memunculkan dinamika keluarga, relasi sosial, dan trauma masa kecil, serta kegagalan komunikasi sebagai warna yang ditumpahkan di atas panggung.
Angkara menceritakan dua orang anak, Azka dan Daniel, yang secara tidak sengaja mempertemukan kedua orang tua mereka untuk berdialog mencari jalan keluar atas masalah yang telah terjadi, selayaknya cara orang dewasa menghadapi konflik, yaitu dengan kepala dingin.
Percakapan dimulai dengan tenang, setidaknya untuk beberapa menit pertama. Sebagai ibu dari Daniel, anak yang giginya patah permanen akibat pemukulan tongkat, Vero menegaskan bahwa putranya berhak mendapatkan permintaan maaf dari Azka, anak dari Alan. Mendengar pernyataan Vero, Alan dengan sigap menyanggah, memanfaatkan kemampuan logika berbahasanya untuk memposisikan Daniel bukan sebagai korban dari peristiwa yang sudah terjadi di antara mereka. Selain Vero dan Alan sebagai dua tokoh yang menjadi "api" percakapan, Michael, pasangan Vero yang memandang hidup hanyalah panggung sandiwara hadir sebagai warna yang mengisi kehidupan Vero yang menurut Michael sendiri perlu sedikit senda gurau agar dapat merasakan hidup yang lebih menyenangkan. Sementara itu, kehadiran Alan dalam pertemuan itu bukan semata-mata keinginannya. Anita, pasangannya, yang hidup tanpa perlu gelisah memikirkan kebutuhannya, duduk di ruang tamu sambil mempertahankan senyum di wajahnya. Namun, senyum itu bukan sembarang senyum. Melalui senyum yang dipamerkan, Anita sebetulnya sedang menjaga apa yang dapat membuat dirinya lepas kendali. Alasan Alan dapat ikut duduk di ruang tamu kediaman Michael karena Anita yang memaksanya untuk hadir dan terlibat dalam situasi yang mempertaruhkan harga diri keduanya sebagai orang tua Azka. Dan jika berbicara tentang penjagaan diri, masing-masing tokoh turut menunjukkan sisi yang mereka jaga agar mampu melanggengkan konsep “diskusi kepala dingin”.
Keempat tokoh, dengan menganut sudut pandang yang berbeda dan ego yang sama-sama tidak mau kalah, merasa diri merekalah yang paling patut didengar, sehingga dialog mereka tak kunjung usai. Tidak ada pemberhentian yang jelas, dan tak satu pun dari mereka berhasil membawa obrolan sampai ke titik penyelesaian masalah.
Terlihat bagaimana percakapan tidak pernah berlabuh pada pembahasan soal dua anak dari kedua pasangan. Khususnya Alan, bagaimana dirinya yang tak pernah henti mendapatkan panggilan telepon dari rekan kerjanya menciptakan jeda yang sekaligus menjadi awal membuka topik pembahasan baru yang hidup di antara keempat tokoh. Anita pun turut memainkan peran membelokkan arah pembicaraan dengan caranya sendiri. Bagaimana Anita yang berusaha bersikap lembut, ramah, dan tenang mengajak Vero untuk terus menceritakan kegemarannya, khususnya tentang dunia kepenulisan dan pengamatan fenomena sosial. Anita sengaja menanyakan hal menarik yang menjadi bagian dari kehidupan Vero sehingga membuat percakapan berpusat pada seluk-beluk tentang Vero. Baik Alan maupun Anita, pasangan ini memang tidak seperti yang diharapkan oleh orang-orang, lelaki yang sibuk dengan pekerjaannya dan perempuan yang dibiarkan menikmati dan mengurus segala urusan rumah tangga, tetapi kesamaan pola pikir keduanya justru berhasil mempersatukan keduanya untuk tidak menempatkan putra mereka, Azka, sebagai pelaku dalam konflik ini.
Sementara itu, Vero dan Michael, secara sepintas terlihat keduanya sebagai pasangan yang harmonis, senyum dan tawa tak pernah hilang dari wajah keduanya. Sikap Michael yang terlihat seperti seorang gentleman memberikan kesan bahwa Vero mendapatkan laki-laki terbaik untuk hidupnya. Alih-alih menjadi sosok ideal sepasang suami-istri, cara Vero maupun Michael memandang dan menyikapi persoalan dunia jelas sangat kontras sehingga tidak mempertemukan mereka pada kesatuan suara yang sama. Vero dengan sikap yang tidak bisa diganggu gugat ketika membicarakan perihal keadilan sosial, bersanding bersama Michael yang tidak pernah memandang bahwa dunia perlu dibuat seserius mungkin. Vero percaya bahwa hidup ini perlu dibawa serius dan penuh pertimbangan. Sementara Michael, baginya, hidup hanyalah sebuah sandiwara yang jika kita biarkan kaku, kita sendiri yang akan merasa kewalahan.
Konflik dalam pementasan ini bukan sebatas siapa yang berhak disebut sebagai pelaku dan korban, melainkan konflik yang didasari oleh ego serta ideologi yang dibawa oleh masing-masing tokoh. Tokoh Alan dan Anita dengan relasi kuasa yang mereka miliki, merasa berhak untuk memutuskan bahwa masalah ini bisa diselesaikan hanya dengan uang. Namun, paham ini ditolak mentah-mentah oleh Vero yang meyakini bahwa tindakan tidak berlandaskan kemanusiaan patut menerima permintaan yang tulus dan bersedia untuk mengakui bahwa pelaku menyatakan dirinya bersalah atas tindakan yang tidak pantas. Michael, seperti yang sudah diterangkan, dia pun memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan Vero.
Pementasan ini berhasil mengemas konflik melalui dialog yang diciptakan seolah seperti bumbu dapur yang membuat penonton tidak ingin berhenti menyantap. Setiap dialog memberikan suasana baru sehingga penonton yang menyaksikan sungkan untuk berdiri dari kursinya. Dua jam pementasan bukanlah waktu yang sebentar, namun ajaibnya tidak berasa bahwa selama dua jam menyaksikan pementasan, lakon Angkara sukses bermain melalui ritme dan ragam dialog yang begitu apik pada setiap babak.
Berdasarkan pengamatan sebagai penonton, mengemas berbagai ideologi bukanlah hal yang mudah. Namun, pementasan Angkara dapat menjadi contoh. Melalui latar yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari mayoritas orang, dua anak berusia 11 tahun bertengkar dan berhasil mempertemukan kedua orang tua yang sama-sama ingin mempertahankan pernyataan bahwa anak dari masing-masing pasangan bukanlah pelaku, melainkan korban. Tawa penonton yang berkali-kali memenuhi auditorium juga tak lepas dari dialog-dialog receh yang diselipkan, mulai dari nostalgia masa kecil kedua orang tua, cerita Michael soal variasi produk jamban yang ia jual, hingga obrolan-obrolan lain yang tak pernah benar-benar kembali ke pembahasan konflik dua anak tersebut.
Jika diminta memberikan tanggapan dalam satu kalimat untuk Angkara, pementasan ini menjadi pementasan yang fresh sekaligus ringan dengan membawa berbagai paham dan ego yang tumbuh menjadi wujud atas fenomena sosial yang sering kita temui, yaitu adu gengsi antarsesama.

0 Komentar