Bagaimana Kisah Cinta Dijadikan Lambang Harapan dalam Novella White Nights Karya Fyodor Dostoevsky

(Sumber gambar: Gramedia.com)


Penulis   : Aqsal Nasrudin

Penyunting: Naura Syahima Bisyri

Malam-malam Putih (White Nights) adalah novella karya Fyodor Dostoevsky yang terbit pertama kali pada 1848. Novella ini mengisahkan pertemuan antara pria kesepian yang menyebut dirinya Sang Pemimpi dengan gadis bernama Nastenka yang sedang menunggu seorang pria lain. Selama empat malam di St. Petersburg, mereka berbincang tentang masa lalu, diri mereka, dan harapan mereka pada satu sama lain sehingga muncullah sedikit harapan di hati Sang Pemimpi. Sebuah harapan yang ia tahu salah. Mungkin… mereka bisa bersama?


Novella ini sering dijadikan konten di aplikasi TikTok sebagai penggambaran putus cinta dan hancurnya harapan. Seringkali, saya melihat Nastenka dianggap antagonis karena telah memberikan harapan palsu kepada Sang Pemimpi. Tren ini membuat saya tertarik untuk membaca cerita ini. Akhirnya, saya membeli buku Malam-malam Putih versi terjemahan yang diterbitkan oleh Medpress Group Official Store di Shopee dengan harga kisaran 35.000. Setelah membaca, saya mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai cerita ini. Alih-alih berfokus pada kisah cintanya, saya mencoba menginterpretasikan apa yang sebenarnya Fyodor Dostoevsky ingin coba sampaikan melalui cerita ini.


Sang Pemimpi memang menjadi korban harapan palsu, tetapi tidak adil bagi kita jika hanya melihat dari sisi sang pemimpi. Nastenka, di dalam cerita ini, sedang menunggu janji dari seorang pria yang akan menikahinya dalam satu tahun. Satu tahun telah berlalu dan pria itu memang sudah kembali ke St. Petersburg, tetapi dia tak kunjung menemui Nastenka. Hal ini membuat Nastenka dalam posisi yang mirip dengan Sang Pemimpi. Di satu sisi, Nastenka berharap pada sebuah janji yang rapuh dan tersiksa karenanya, sementara di sisi lain ada Sang Pemimpi yang berharap bisa bertemu dengan Nastenka dan senang karenanya. Dari sini, kita bisa melihat dualitas dari harapan—siksa dan senang.


Dualitas harapan ini masih terjaga hingga akhir, di mana harapan Nastenka terbayarkan di malam keempat dengan pertemuannya kembali bersama pria yang ditunggu-tunggunya. Ini terjadi tepat setelah Nastenka dan Sang Pemimpi berbicara tentang masa depan hubungan mereka. Dualitas dari harapan terjadi lagi di sini, yaitu harapan yang terbalaskan dan yang berujung mengecewakan. Namun, bukan hanya itu. Ada pesan lain di sini; cinta tak bisa dipaksakan.


Di akhir cerita, Nastenka mengirim surat kepada Sang Pemimpi. Ia mengaku bahwa perasaannya saat itu kepada sang pemimpi hanyalah ilusi, tetapi ia tetap ingin menjalin hubungan “lebih dekat dari saudara” bersama Sang Pemimpi. Terakhir, ia mengajak Sang Pemimpi untuk datang ke pernikahannya. Membaca surat itu, Sang Pemimpi membayangkan dirinya 15 tahun lagi dengan kondisi yang sama menyedihkannya. Namun, ia tidak menyesal, tidak pula marah pada Nastenka. Malahan ia bersyukur dan berterimakasih kepada Nasstenka karena telah mau berbagi momen kebahagiaan bersama pria sepertinya.


Kalimat terakhir dari Sang Pemimpi, sekaligus penutup dari cerita ini, yang berbunyi, "Tuhan, satu momen kebahagiaan yang utuh dan hanya itu saja—Bukankah itu cukup untuk seumur hidup manusia?" membuat saya menyadari bahwa ini bukan sebatas cerita cinta, melainkan bagaimana individu berinteraksi dengan harapan, khususnya harapan untuk kebahagiaan. Cerita ini mengingatkan saya kepada sebuah eksperimen bernama “Drowning Rats Psychology Experiment” yang dilakukan oleh Curt Richer pada 1950. Dalam eksperimennya, ia memasukkan tikus-tikus domestik dan liar ke dalam ember. Mereka hanya bertahan selama beberapa menit. Curt Richer kemudian memasukkan faktor harapan ke dalam eksperimennya dan mencatat detik-detik sebelum tikusnya mati. Di eksperimen selanjutnya, ia menyelamatkan tikus di saat-saat terakhir. Ia kemudian membantu pemulihan tikus tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam ember. Hanya dengan memasukkan faktor harapan, tikus-tikus tersebut dapat berenang selama 60-80 jam. Eksperimen ini memberitahu kita bahwa mempercayai adanya harapan akan membuat kita menjadi lebih tangguh. 


Tentunya, tikus tidak bisa disamakan dengan manusia. Namun, saya melihat adanya korelasi antara eksperimen ini dengan tema harapan yang dibawa oleh Dostoevsky melalui Malam-Malam Putih. Seperti yang saya sebutkan, ada dualitas harapan antara Nastenka dan Sang Pemimpi. Saya ingin membahas harapan dari sisi Sang Pemimpi sebagai tokoh utama sekaligus narator dari cerita ini. Menurut saya, Dostoevsky ingin memberitahu kita bahwa harapan mungkin adalah sebuah tipuan atau bahkan jebakan. Mengapa demikian? Karena beberapa kali Nastenka sudah bilang untuk jangan jatuh cinta padanya. Ironisnya, Sang Pemimpi sadar akan hal ini dan tetap, secara sadar, jatuh cinta pada Nastenka. Seolah-olah Fyodor Dostoevsky ingin menyampaikan bahwa, terlepas dari apakah harapan itu jebakan atau bukan, kita harus tetap berharap untuk terus hidup.

Hal ini sejalan dengan quotes dari Fyodor Dostoevsky pada kesempatan lain, yaitu  “To live without hope is to cease to live.” yang artinya, “Hidup tanpa harapan berarti berhenti hidup.”

Posting Komentar

0 Komentar