Di Tengah Arus Digital, Mengapa Buku Fisik Tetap Menarik Perhatian?

Sumber gambar: Unsplash (Christin Hume)


Penulis   : Abida Liya


Kemajuan teknologi digital memungkinkan kita untuk mengakses informasi melalui gawai (handphone), mulai dari berita terbaru hingga konten pendek yang dapat dinikmati dalam hitungan detik. Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ini menghadirkan cara baru bagi masyarakat untuk menemukan dan menikmati informasi. Di sisi lain, kemajuan teknologi juga mendatangkan tantangan yang cukup besar bagi kebiasaan membaca buku. Berbagai survei menunjukkan bahwa minat baca di beberapa negara, termasuk Indonesia, masih tergolong rendah. Saat ini mayoritas masyarakat cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada membaca buku fisik. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi ini adalah perubahan pola masyarakat dalam mengakses dan mengonsumsi informasi di era digital. 


Buku tebal atau berita panjang dianggap menghabiskan banyak waktu dan membosankan ketika informasi sejenis dapat diperoleh melalui berbagai media digital, seperti video pendek informatif yang mengedepankan visual sehingga lebih digemari karena praktis dan mudah diakses. Oleh karena itu, kebiasaan membaca buku fisik maupun tulisan panjang kerap tersisih. 


Namun, berdasarkan fakta-fakta tersebut, apakah kebiasaan membaca benar-benar telah hilang di era digital ini?


Faktanya, di tengah kemudahan teknologi digital dan media informasi, buku fisik masih memiliki ruang untuk sebagian masyarakat. Tak sedikit orang yang tetap memilih untuk membeli buku cetak, menyusun koleksi buku di rak, dan mengunggah buku yang sedang mereka baca di media sosial. Fenomena ini menarik untuk dicermati karena buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber bacaan, tetapi juga dapat memuat makna personal bagi pemiliknya. 


Lantas, apa yang membuat buku fisik tetap menarik perhatian ketika akses terhadap bacaan digital semakin terbuka? 


Gencarnya penyesuaian algoritma media sosial yang kita gunakan ternyata mendatangkan dampak positif bagi masyarakat yang gemar membaca buku, seperti adanya kegiatan membaca senyap bersama di akhir pekan, giveaway buku, atau sekadar berbagi ulasan suatu buku kepada para pengikut mereka di akun media sosialnya sebagai upaya menggiatkan literasi. Awal lonjakan antusiasme ini bermula dari kegiatan-kegiatan yang tersegmentasi di kalangan pembaca buku yang juga gemar mengikuti perkembangan literasi di era 2019-an. 


Sejak pandemi COVID-19, pengguna media sosial melonjak pesat, termasuk penggiat literasi yang mengikuti perkembangan situasi di Indonesia melalui media sosial, seperti isu lingkungan, perempuan, hingga politik menjelang tahun 2024. Mereka mengubah isu-isu tersebut menjadi forum diskusi yang berkaitan erat dengan literatur, sehingga sejak pertengahan tahun 2022 para pembaca buku mulai lebih leluasa merekomendasikan bacaan-bacaan pribadinya kepada khalayak luas. Mereka sering kali mengunggah koleksi buku-buku fisik sembari menuliskan ulasan singkat mengenai buku tersebut. Unggahan sejenis yang bermunculan pun membentuk algoritma baru dan mengundang masyarakat yang masih awam untuk masuk ke dalam kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh para pembaca buku. Mulai dari berdiskusi tentang bacaan atau penulis tertentu, isu pada sebuah peristiwa, hingga perdebatan tentang opini-opini tertentu di lingkup literasi. 


Para pembaca buku tersebut berkecimpung di dalam beberapa platform dengan menyesuaikan umur dan preferensi audiens. Sekitar tahun 2015, Tumblr ramai menjadi wadah penggiat literatur klasik berbahasa Inggris. Audiensnya diperkirakan didominasi oleh generasi milenial akhir yang memasuki fase peralihan dari masa remaja ke dewasa. Lalu pada era pandemi, ketika generasi Z juga mulai mendominasi, terbentuklah algoritma dan segmentasi audiens pembaca buku di X (Twitter), Instagram, dan TikTok. Pada aplikasi X, mereka melabeli akunnya sebagai “booktwt”, begitu pula pada pengguna Instagram yang melabeli akunnya sebagai “bookstagram”. Sementara itu,  di TikTok mereka menggunakan tagar #booktok. Hal tersebut dilakukan guna menjalin koneksi dengan sesama akun yang memang didedikasikan untuk membahas dunia perbukuan. Pada ketiga media sosial tersebut, banyak dari mereka yang rajin mengunggah foto-foto buku fisik yang dimilikinya, membagikan informasi mengenai diskon buku, serta meramaikan acara-acara festival buku. 


Melalui dinamika tersebut, tentunya buku fisik akan selalu menjadi pilihan utama para pembaca buku, meski kini mereka juga sudah ramai menggunakan aplikasi e-book dan perangkat e-reader. Bagi mereka, buku fisik memunculkan keterikatan emosional tersendiri, mulai dari aroma buku baru, pembatas buku dengan berbagai macam bentuk, halaman yang dilabeli karena memuat bagian yang mereka sukai, hingga anotasi warna-warni bagi mereka yang gemar menghias. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara tidak langsung, koleksi buku fisik yang mereka miliki adalah bagian dari identitas mereka sebagai pembaca buku sekaligus penggiat literasi. Kini, berkat para penggiat literasi inilah banyak komunitas-komunitas buku yang mulai mengadakan sudut baca gratis di trotoar jalan.

Posting Komentar

0 Komentar