“Pancarona: Denyut Tiga Pilar Pembangun Seni dalam Wiyata Hikayat”



Reporter: Annika dan Zulfha
Penulis: Annika
Penyunting: Zulfha


Melalui rangkaian seminar dan lokakarya yang berlangsung secara luring di Auditorium Gedung IV FIB UI, Divisi Seni IKSI melahirkan program kerja Pancarona sebagai gebrakan baru dalam hal isu lingkungan dan kebudayaan.

Pancarona diusung sebagai upaya untuk menciptakan lebih banyak warna dari isu-isu kerusakan lingkungan yang dipicu oleh sampah. Dengan berlandaskan pada lima warna primer yang jika disatupadukan mampu menciptakan warna-warna baru, Pancarona turut berkontribusi dalam mengolah sampah menjadi sesuatu yang lebih indah dan memiliki nilai yang berdampingan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, produk akhir dari rangkaian acara ini adalah baju atau gaun yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. 

Sebagai penguat konsep utama, Pancarona mengambil tema “Wiyata Hikayat” yang berarti pengajaran tentang cerita rakyat sebagai jalan untuk menghubungkan tiga pilar sekaligus, yaitu kebudayaan, lingkungan, dan kreativitas. Tema ini menjadi titik utama acara mengingat daya tarik Indonesia yang erat kaitannya dengan budaya ketimuran. Acara ini juga menciptakan gerakan baru dalam mentransmisi cerita rakyat kepada generasi sekarang dan generasi mendatang. 

Pancarona dan Wiyata Hikayat merupakan kesatuan yang lahir dari pemikiran bahwa sejatinya, fashion merupakan jenis seni yang menyumbang sampah terbesar, khususnya fast fashion.

“Jadi, Wiyata Hikayat itu tema tahun ini. Bahasannya memang berbeda, tetapi digabungkan karena fashion itu merupakan seni dan juga salah satu penyumbang sampah terbanyak (fast fashion),” jelas Mahaputri Adinda selaku Penanggung Jawab Pancarona, Sabtu (19/08).

Dengan begitu, esensi acara sebagai rantai kesadaran akan isu sampah plastik dan dongeng masa kecil tetap terjaga. Hal ini diperkuat oleh penciptaan maskot yang terinspirasi dari cerita Roro Jonggrang, yaitu pada bagian korset berbentuk candi Prambanan, mahkota menyerupai daun padi, dan ornamen menggantung pada rok merepresentasikan bangsa jin yang berlari, serta hiasan belakang yang terinspirasi dari matahari terbit. 

Pancarona resmi dimulai ketika penanggung jawab dan wakil penanggung jawab memberikan sambutan, kemudian dilanjut dengan sambutan kedua oleh Daniel H. Jacob selaku perwakilan dosen program studi Indonesia FIB UI. Ia menyatakan perasaan senangnya perihal kegiatan yang mengambil topik utama lingkungan.

“Saya senang dengan kegiatan ini, paling tidak mahasiswa sudah harus memikirkan kegiatan yang bisa berdampak pada lingkungan dan masyarakat. Kita di FIB UI khususnya, harus punya andil di masyarakat dengan pemilihan yang pas. Melakukan pengajaran tentang cerita rakyat dan tentang sampah merupakan karya yang inovatif dan harus diteruskan. Tidak hanya terbatas pada masyarakat saja, tetapi terus dan bisa menggalangkan kegiatan-kegiatan di masyarakat.” kata Daniel, Sabtu (19/23).

Ia juga mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan sebagaimana Pancarona merupakan sebuah kemajuan yang dapat dikembangkan di tengah-tengah masyarakat sebagai bentuk kontribusi mengimplementasikan Tri Dharma UI.

Acara dilanjut dengan penampilan biro musikalisasi puisi IKSI, yakni Sasina dengan lagu berjudul “Pantai Utara” dan “Asmara Lokantara” yang sukses mengundang tepuk tangan penonton berkat iringan gitar dan suara dari tiga vokalis utama.

Demikian pula acara berlanjut dengan seminar yang disampaikan oleh Daffi Syarif Tanjung. Melalui “Aksi Penyelamatan Lingkungan dari Sampah Plastik”, pendiri komunitas Merakit Asa ini menyampaikan bahwa sampah tidak dapat dipisahkan eksistensinya dengan masyarakat. Bagaimana jumlah sampah sudah sangat mengkhawatirkan dan memerlukan seluruh elemen masyarakat untuk saling memberikan kesadaran sekaligus mengimplementasi berbagai kegiatan yang dapat mengurangi sampah di sekitar. 

“Sampah adalah bagian dari hidup kita, tetapi tumpukan sampah juga bagian dari hidup kita karena kita menggunakan plastik dan kardus di kehidupan sehari-hari yang kemudian barang tersebut menjadi sampah.” kata Daffi, Sabtu (19/23).

Di akhir materi, ia menyampaikan dua solusi dalam mengurangi sampah plastik. Pertama adalah dengan top to down solution, yakni dengan menggunakan kewenangan pemerintah dalam pengelolaan sampah seperti yang tercantum dalam UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Kedua adalah bottom to up solution, yakni sebuah upaya dengan meningkatkan pengetahuan lingkungan dan memulainya dari langkah yang kecil. 

Seminar sesi pertama ditutup oleh pembacaan puisi “Mencari Sampah di Seoul” oleh Amalia (IKSI 2021). Puisi ini ditulis oleh Maman S. Mahayana seorang kritikus sastra sekaligus pemateri dalam seminar sesi dua. 

Dimoderatori oleh Briana Batrisyia, materi yang disampaikan oleh Maman S. Mahayana–pemateri kedua–ialah, “Mengulik Wiyata Hikayat: Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Korea–Indonesia”. Maman menyajikan perbandingan antara dongeng “Nyanyian Katak Hijau” dan “Malin Kundang” sebagai dua cerita yang lahir dengan perbedaan asal muasal, tetapi memiliki benang merah yang sama, yaitu sebagai citraan dari budaya dan masalah yang melekat di kehidupan. Dengan demikian, cerita rakyat menjadi komponen penting dalam menjaga ketertiban. 

“Nyanyian Katak Hijau” sebenarnya merupakan cermin dari sikap hidup dan budaya orang-orang Korea dalam menyikapi kuburan sebagai simbol yang sakral. Ini dibuktikan dengan kehadiran tradisi Chuseok yang mengharuskan manusia–warga Korea khususnya–membersihkan kuburan leluhur. 
Dongeng Indonesia maupun Korea lahiriahnya menjadi kunci dari keberadaan sastra itu sendiri. Bahwa sastra tidak datang dari kekosongan karena masalah masyarakatlah yang menghasilkan sastra. Oleh karenanya, sastra bukanlah imajinasi. 

Yang menarik dari seminar kedua ini adalah pertanyaan oleh Siva (IKSI 2022) mengenai keberadaan jenis cerita rakyat yang berkaitan dengan lingkungan. Pemateri—Maman S. Mahayana—menjawab dengan lugas bahwa setiap cerita rakyat memiliki nilai lingkungan.

“Sesungguhnya cerita rakyat sendiri memiliki nilai lingkungan. Contoh Nyanyian Katak Hijau yang merepresentasikan manusia jangan menempatkan sesuatu di pinggir sungai agar tidak merugikan banyak aspek. Leluhur kita adalah penyair alam karena bisa menghasilkan metafora berdasarkan lingkungan sekitar pada karyanya. Contoh peribahasa ‘air beriak tanda tak dalam dan seperti pagar makan tanaman’,” jawab Maman, Sabtu (19/23)

Pernyataan ini juga yang menjadi pemantik MC untuk menutup sesi seminar kedua dan acara berlanjut dengan diadakannya lokakarya yang memanfaatkan sampah sebagai bahan utamanya. Setiap tim diwajibkan untuk membuat barang bernilai (fashion) dari sampah yang telah disediakan. Setiap tim terdiri dari tiga hingga enam orang dengan sistematika kegiatan berupa pendaftaran, pembimbingan oleh panitia, dan sesi dokumentasi hasil karya. 

Karya-karya yang terkumpul nantinya akan ditampilkan pada subacara lanjutan Pancarona, yakni pameran yang digelar pada bulan Oktober 2023 di Ruang Kaca Auditorium Gedung IX FIB UI. Tidak hanya hasil lokakarya, pameran juga akan memuat karya lain yang berasal dari mahasiswa aktif IKSI.

So, stay tuned untuk pameran berikutnya #WarGaung!



Posting Komentar

0 Komentar