(Sumber gambar: YouTube/Belenggu (Official Music Video)
Penulis : Munayya Zoraya
Belenggu - Amigdala

Ada dawai-dawai yang tak bisa dipetik
Dan dibiarkan bergeming dalam hati manusia
Ada binatang jalang yang tak bisa dilawan
Dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia, ah
Oh-oh-oh, oh-oh
Oh-oh-oh, oh-oh
Ada dawai-dawai yang tak bisa dipetik
Dan dibiarkan bergeming dalam hati manusia
Ada binatang jalang yang tak bisa dilawan
Dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia, ah
Oh-oh-oh, oh-oh
Oh-oh-oh, oh-oh
Di sesak dada
Di kering luka
Di sisa rindu
Atau di ambang pilu
Di sesak dada
Di kering duka
Di sisa rindu
Atau di ambang pilu
Lagu “Belenggu” merupakan salah satu karya Amigdala yang termasuk dalam mini album Balada Puan, yang dirilis pada 7 Juli 2018. Mini album tersebut memuat lima lagu dengan “Belenggu” sebagai salah satunya. Lirik lagu ini menghadirkan ungkapan-ungkapan simbolis yang menggambarkan kegelisahan manusia melalui penggunaan majas-majas metafora.
Lirik pada lagu tidak selalu menyampaikan makna secara langsung. Melalui penggunaan majas, sebuah ungkapan dapat membuka ruang bagi beragam penafsiran. Dalam “Belenggu”, ketidakjelasan konteks yang melatarbelakangi kegelisahan tersebut membuat liriknya menarik untuk ditelaah lebih jauh. Lagu ini dapat dimaknai melalui konteks tekanan sosial dalam kehidupan beragama maupun pergulatan batin individu. Kedua penafsiran tersebut menjadi dasar untuk memahami bagaimana penggunaan majas dapat menghadirkan makna berbeda melalui lirik yang sama.
Interpretasi dalam Konteks Tekanan Sosial dalam Kehidupan Beragama
Ada dawai-dawai yang tak bisa dipetik
Dan dibiarkan bergeming dalam hati manusia
Ada binatang jalang yang tak bisa dilawan
Dan dibiarkan menari liar dalam tubuh manusia, ah
Pada penggalan lirik lagu “Belenggu” di atas, penulis mencoba menginterpretasikan penggunaan majas dalam konteks kehidupan beragama. “Dawai-dawai yang tak bisa dipetik” menjadi sebuah metafora dari keputusasaan suatu individu dalam menghadapi persoalan hidup dari sudut pandang spiritualitas. Penulis memaknai “dawai” pada baris lirik sebagai sebuah harapan yang sayangnya tak mampu dipetik menjadi gambaran harapan yang kandas dan tak mampu diraih. Harapan tersebut dapat berarti menginginkan kehidupan yang lebih baik tanpa adanya penghakiman atau ekspektasi orang lain terhadap bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Masyarakat kerap kali membebani seseorang dengan ekspektasi yang berkaitan dengan keimanan, meski pada dasarnya keimanan adalah suatu hal mutlak yang hanya layak dinilai oleh Tuhan.
Pada baris berikutnya, dikatakan bahwa dawai yang tak mampu dipetik itu dibiarkan bergeming dalam hati. Penggunaan majas tersebut penulis tafsirkan sebagai suatu tindakan yang menandakan bahwa keputusasaan tersebut tak lagi berusaha dihilangkan, justru dibiarkan berdiam dalam lubuk dan relung jiwa. “Binatang jalang” dapat diartikan sebagai perasaan memberontak yang ada pada seseorang, yang kemudian sering menghasilkan tindakan yang akan dipandang sebagai dosa oleh masyarakat beragama. Binatang jalang tersebut tak mampu dilawan ketika suatu harapan akan cahaya keselamatan tak lagi dicari. Ia dibiarkan menari liar dan tumbuh menjadi sesuatu yang semakin tak terkendali.
Interpretasi melalui penafsiran majas ini membawa kita pada kesadaran bahwasannya kehidupan beragama tidak sesederhana menyembah Tuhan dan menjalankan perintahnya. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang rentan. Keimanan tidak hanya soal setan yang merayu manusia terhadap kenikmatan yang fana. Ketika seseorang akan tenggelam, mereka membutuhkan tangan yang menyelamatkannya; bukan titah dan nasihat tentang bagaimana cara untuk berenang.
Interpretasi dalam Konteks Pencarian Jati Diri
Di sesak dada
Di kering duka
Di sisa rindu
Atau di ambang pilu
Berdasarkan penggalan lirik di atas, Amigdala berusaha menggambarkan sebuah emosi melalui diksi yang terasa seperti genggaman terakhir seseorang. “Sesak dada” dapat ditafsirkan menjadi sebuah perasaan sakit dalam relung hati manusia. Kering duka dan sisa rindu menyampaikan sisa-sisa dari apa yang mungkin sebelumnya menjadi sesuatu yang kita kenal dengan baik. “Di ambang pilu” adalah suatu penggambaran sederhana tentang emosi seseorang yang mulai mencapai tahap kehampaan dengan merasakan sisa-sisa kesedihan yang masih ada.
Dalam konteks pencarian diri, penulis menghubungkan erat penafsiran majas ini dengan sebuah perasaan bingung. Kebingungan dalam memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan dan apa yang ingin dicapai dalam hidup. Terkadang, seseorang dapat menghabiskan banyak waktu mencari jawaban atas pertanyaan tentang siapa dirinya, tanpa menyadari bahwa proses tersebut justru membuatnya semakin jauh dari pemahaman terhadap dirinya sendiri. Perasaan ini dapat dikaitkan dengan ungkapan “di sisa rindu”, yang dalam penafsiran penulis bukan sekadar kerinduan terhadap seseorang, melainkan kerinduan terhadap sesuatu yang pernah dimiliki atau diharapkan, termasuk diri sendiri yang mungkin terasa hilang di tengah perjalanan hidup.
Sementara itu, ungkapan “di ambang pilu” dapat menggambarkan keadaan ketika seseorang berada di batas antara keinginan untuk terus mencari dan kelelahan menghadapi ketidakpastian. Pencarian jati diri tidak selalu berjalan dengan keyakinan dan kepastian. Ada kalanya seseorang justru menemukan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, hingga muncul perasaan hampa karena tidak mengetahui kemana dirinya harus melangkah. Dalam konteks ini, kesedihan bukan semata-mata akibat kehilangan sesuatu, melainkan juga akibat ketidakmampuan memahami apa yang sebenarnya hilang.
Melalui penafsiran tersebut, lirik lagu “Belenggu” dapat dimaknai sebagai gambaran pergulatan manusia dalam mencari pemahaman terhadap dirinya sendiri. Sebab, terkadang belenggu yang paling sulit dilepaskan bukanlah sesuatu yang mengikat tubuh, melainkan kebingungan yang membuat seseorang terus mempertanyakan siapa dirinya dan apa yang sebenarnya ia cari.
Melalui penggunaan majas dan diksi yang simbolis, lagu “Belenggu” karya Amigdala menghadirkan ruang bagi berbagai penafsiran mengenai kegelisahan manusia. Baik dalam konteks tekanan sosial kehidupan beragama maupun pencarian jati diri, liriknya menggambarkan bagaimana seseorang dapat terbelenggu oleh keadaan di luar maupun pergulatan di dalam dirinya sendiri. Ketidakjelasan konteks yang melatarbelakangi kegelisahan tersebut menjadi daya tarik tersendiri, sebab makna lagu tidak sepenuhnya dibatasi oleh apa yang tertulis dalam lirik, tetapi juga oleh bagaimana lirik tersebut dipahami.
_Media%20Gaung%20(8).png)
0 Komentar