Sumber gambar: Unsplash (Annika Wischnewsky)
Penulis : Azkya Karima
Bagi para pencinta musik pop Indonesia, nama Hivi! tentu sudah tidak asing di telinga mereka dan begitu lekat dengan lagu-lagu bernuansa ceria serta penuh romansa masa muda. Salah satu karya ciptaan Laleimanino yang bertajuk “Pelangi”, dipopulerkan oleh Hivi! dan menjadi mahakarya terbaik dalam reformasi personil Hivi!. Grup musik yang yang digawangi oleh Ilham, Ezra, Febri, dan Neida ini membuktikan bahwa mereka juga sangat piawai dalam meramu kisah patah hati.
Lagu “Pelangi” yang dirilis pada tahun 2016 dalam album Kereta Kencan dengan durasi 4 menit 21 detik ini bukan hanya sekadar single biasa. ‘Pelangi’ merupakan salah satu sejarah penting sekaligus sebagai panggung pembuktian bagi Neida Aleida sebagai vokalis perempuan baru yang kala itu menggantikan posisi Dea. Lagu ini meledak di pasaran tanpa butuh waktu lama dan bertransformasi menjadi lagu wajib bagi beberapa pencinta musik yang sedang terjebak dalam pahitnya cinta yang sesaat.
“Pelangi” adalah sebuah wujud fenomena situationship atau hubungan tanpa status yang banyak dialami generasi muda zaman ini. Hivi! hadir membawakan lagu “Pelangi” sebagai gambaran kehadiran seseorang yang begitu memikat, memberi warna baru di hari-hari yang sepi, tetapi pada akhirnya pergi begitu saja. Lagu ini tidak berbicara tentang pengkhianatan yang kasar, melainkan tentang kepedihan yang dihadirkan secara halus oleh seseorang yang memberi kita harapan dalam hubungan asmara, memberikan kerapuhan pada hati ketika menyadari bahwa diri kita hanya dijadikan tempat persinggahan sementara, bukan tujuan utama.
Kedewasaan yang terkandung dalam penulisan lirik lagu ini sangat terasa pada bagian chorus. Alih-alih meratap atau memohon agar perjalanan cinta bukan hanya untuk sesaat, liriknya justru menyuarakan sebuah ketegasan, “Jangan anggap hatiku jadi tempat persinggahanmu untuk cinta sesaat”. Ada batasan diri yang disampaikan oleh Hivi! dengan tujuan tetap sehat dalam hubungan asmara. Bagian bridge lagu ini menjadi puncak puitis yang menyayat hati, dalam baris “Kau bagai kapal yang terus melaju… namun sayangnya kau tak pilih aku jadi pelabuhanmu”, menganalogikan kapal dan pelabuhan sebagai gambaran realita pahit tentang bertepuk sebelah tangan yang dikemas secara elegan.
Keberhasilan “Pelangi” merajai tangga lagu tentu tidak lepas dari komposisi musiknya yang brilian. Dikemas dengan baik oleh tiga produser Laleimanino, lagu ini berhasil mengawinkan lirik yang sedih dengan aransemen pop balada yang terdengar manis dan dapat dinikmati dengan mudah oleh pendengar.
Lagu ini dibuka dengan petikan gitar akustik seolah mengajak pendengar untuk masuk ke dalam ruang yang sunyi. Kemudian diperkaya oleh sentuhan keyboard dan pukulan drum yang stabil membangun dinamika emosi yang bergerak dari kerapuhan menuju sebuah penerimaan megah.
Aspek vokal juga menjadi daya tarik utama yang membuat lagu ini begitu hidup. Sebagai single perdana Neida Aleida bersama Hivi!, “Pelangi” menjadi panggung pembuktian yang sempurna. Karakter vokal Neida yang lembut namun jernih berpadu sangat apik dengan suara Ilham Aditama yang hangat menyentuh pendengaran. Harmonisasi vokal ganda di sepanjang lagu tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga berhasil menyentuh hari dengan rasa frustasi sekaligus keikhlasan dengan takaran emosi yang pas. Penataan musik yang rapi ini membuat pendengar bisa menikmati kesedihan dengan cara menyenangkan.
Secara keseluruhan, “Pelangi” adalah bukti nyata kedewasaan Hivi! dalam menafsirkan rasa sakit. Mereka berhasil membuktikan bahwa lagu patah hati tidak selamanya harus terdengar meratap dan menyayat hati dengan drama. “Pelangi” mengajarkan kita sebuah seni penting dalam hubungan asmara, bahwa memiliki ketertarikan pada seseorang yang datang sesaat itu boleh, tetapi berani mengambil sikap tegas untuk melepaskannya ketika dia tidak menjadikan kita pilihan. Lagu ini cocok untuk didengarkan ketika kita membutuhkan dorongan moral untuk mulai belajar mengikhlaskan seseorang yang telah pergi.
Menurutmu, bagian lirik “Pelangi” mana yang paling sukses membawa dirimu bernostalgia atau bahkan gagal move on?
_Media%20Gaung%20(13).png)
0 Komentar